Selasa, 12 Maret 2013

Telah Lahir Idola Baru, Fatin "X Factor"

http://www.xfactorindonesia.com/episodes/video/audisi/58/fatin-shidqia-grenade

Nama Fatin Shidqia, beberapa bulan lalu mungkin tidak ada yang mengenal. Tapi sekarang, nama Fatin sudah akrab di telinga masyarakat. Bahkan, satu waktu saya tengah di sebuah mall, salah satu penjaganya memutar suara Fatin dari ponselnya.

Fatin saat ini sudah seperti menjadi idola baru. Ya, seorang gadis berusia 16 tahun itu berhasil menarik perhatian masyarakat, saat tampil pertama kali di ajang mencari bakat XFactor. Saat itu, dia tampil mengenakan seragam SMA dalam audisi XFactor.

Tampil pemalu seperti anak ABG membuat juri awalnya tertawa kecil. Fatin pun sempat menjadi bahan lelucon para juri saat itu, Ahmad Dhani, Rosa, dan Beby. Tapi, siapa sangka anak kecil itu ingin menyanyikan "Grenade" dari Bruno Mars. Apalagi, saat menyanyi, suaranya sangat khas dan membuat juri tak menyangka.

"Ahmad Dhani, suka suara kamu" begitu kata Dhani menggambarkan.


Di Balik "Catatan Sang Jurnalis"

Awal Januari 2013, sempat terjadi obrolan santai antara Pemred dan beberapa redpel Okezone di sela-sela rapat. Saat itu obrolan ngalor-ngidur, hingga membicarakan hari ulang tahun Okezone yang ke-6, yang jatuh pada 1 Maret 2013.

Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja tercetus sebuah ide untuk membuat buku. Awalnya, saat itu kami berpikiran untuk meninggalkan "sesuatu" yang bersifat abadi untuk media yang sudah kami bangun bersama selama enam tahun.

Akhirnya, direncanakan lah untuk membuat sebuah buku. Minimal, jika kami sudah tidak di media ini lagi, ada yang bisa kami wariskan secara abadi, yaitu sebuah buku.

Obrolan santai pun lama-lama menjadi serius. Hingga Pemred, maju ke depan ruang rapat mencoret-coret rencana pembuatan buku. Akhirnya, rencana pembuatan buku pun diputuskan. Materi buku diputuskan diambil dari Catatan Redaksi yang setiap hari muncul di bagian kiri bawah welcome page Okezone.com. Obrolan juga mengarah kepada nama buku tersebut.

Sejumlah usulan judul pun muncul. Awalnya, judul-judul yang diusulkan di antaranya adalah "Coretan Jurnalis". Karena perdebatan menjadi serius, akhirnya pembicaraan disetop, judul buku disimpan dahulu.

Mas Budi, Pemred, menugaskan saya untuk mengumpulkan catatan redaksi Okezone dari tahun 2009 hingga Desember 2012. Dalam beberapa hari, berhasil dikumpulkan sekira 500-an artikel yang pernah dibuat Pemred, dan Redpel.

Setelah terkumpul, seluruh artikel saya kirim ke seluruh imel redpel dan pemred untuk diseleksi. Dari situ lah terus bergulir rapat secara rutin di sela-sela kesibukan dalam mengelola redaksi Okezone.

Banyak keputusan dibuat. Di antaranya mengapa menggunakan gambar karikatur di halaman sampul buku. Awalnya, kami menduga pembaca akan mengira bahwa itu adalah komik dan bukan buku. Sempat juga dicarikan alternatif gambar untuk sampul. Tapi, akhirnya karikatur itu lah yang diambil. Karena dianggap dapat menggambarkan isi buku.

Makanya, solusi dibuat dengan kalimat tambahan di bawah judul "Kumpulan Artikel Kritis Redaksi Okezone.com". Sehingga, kami yakin pembaca tidak akan menilai lagi bahwa buku itu adalah komik.

Yang lainnya, adalah judul buku. Judul buku awalnya muncul ide namanya "Catatan Redaksi", "Coretan Jurnalis", dan beberapa nama lain. Akhirnya, diambil lah judul "Catatan Sang Jurnalis". Filosofinya, artikel-artikel yang kami buat adalah catatan-catatan yang kami buat setiap hari, dalam mengkritisi kebijakan pemerintah, kondisi sosial, dan lainnya. Diharap, buku ini dapat menjadi masukan positif bagi pemangku kebijakan.

Soal jumlah artikel. Awalnya terkumpul hingga 500 lebih artikel. jika dijadikan buku bisa mencapai 700-800 halaman, karena banyak artikel yang cukup panjang hingga mencapai dua halaman makanya diputuskan untuk "memangkas" artikel-artikel tersebut. Jadilah setiap redpel, memberikan 30 artikel terbaiknya. Jadi total jadi 150 artikel. Diharap buku hanya akan menjadi 200 halaman saja. Tapi, pas hasil akhir, ternyata halaman buku menjadi "bengkak" menjadi 350 halaman.

Singkatnya, setelah melalui beberapa proses verifikasi, buku tersebut berhasil dicetak dan sampai di kantor Okezone, sekira pukul 5 sore, tanggal 1 Maret. Hanya selang satu jam sebelum acara HUT Okezone ke-6 digelar di lantai tiga, Gedung High End, kawasan Kebon Sirih.

Di sela menyerahkan buku tersebut kepada para direktur, Mas Budi, saat itu berujar, buku tersebut sengaja dibuat agar menjadi monumen intelektual bagi Okezone di usianya ke-6. Buku ini sederhana, tapi sarat makna.

Semoga saja, buku sederhana dan jauh dari kesempurnaan itu menjadi tonggak sejarah pertama bagi Okezone dalam menancapkan intelektualitasnya di tengah-tengah masyarakat. Amien.

Kamis, 09 Agustus 2012

Stop Bawa Isu Agama di Pemilukada!

Syukri Rahmatullah
Senin, 6 Agustus 2012 - 14:56 wib

Prihatin! Hanya itu mungkin kata yang pantas diucapkan untuk menggambarkan situasi pemilukada belakangan ini. Isu suku agama dan ras, digunakan untuk kepentingan sesaat calon tertentu.

Sejak reformasi, isu SARA sudah mulai ditinggalkan secara perlahan. Apalagi setelah mantan Presiden Indonesia, Abdurahman Wahid, bersikap tegas membela kaum minoritas Tionghoa, dengan membolehkan mereka merayakan Imlek yang dilarang selama orde baru berdiri. Pesannya jelas, tidak ada tempat bagi isu SARA di negeri yang bernafaskan Pancasila.

Tapi belakangan ini, upaya tersebut kembali tercoreng. Isu SARA digunakan kembali untuk mendeskreditkan salah satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Apalagi upaya tersebut dilakukan tempat yang dianggap suci umat muslim, yaitu masjid.

Rhoma Irama boleh saja berdalih bahwa itu adalah dakwah. Tapi, semua orang tahu bahwa dia adalah tim sukses salah satu calon gubernur DKI Jakarta. Tentu saja, dakwah yang dilakukannya tidak bisa dikategorikan netral, melainkan berpihak kepada salah satu calon.

Apalagi dalam aturan pemilu jelas diatur bahwa tempat ibadah, seperti masjid, gereja,vihara, dan lainnya merupakan tempat terlarang untuk melakukan kampanye. Apa yang dilakukan Rhoma Irama tentu saja bernuansa kampanye yang diselipkan dalam ceramah. Sehingga sangat mudah melihatnya bahwa hal tersebut adalah upaya/ajakan kepada pendengar ceramahnya untuk memilih salah satu calon gubernur.

Sayangnya, apa yang dilakukan Rhoma ini mendapatkan apresiasi dari Menteri Agama Suryadharma Ali yang seharusnya dapat menjaga kerukunan umat beragama. Sekalipun banyak orang tahu bahwa Suryadharma adalah ketua umum PPP, Rhoma Irama adalah kader PPP. Partai berlambang Kabah juga telah menyatakan dukungan kepada salah satu calon gubernur.

Ditambah lagi, pasangan calon yang diuntungkan dengan ceramah Rhoma Irama mendukung apa yang dilakukan Rhoma Irama tersebut.

Pemilukada saat ini merupakan pembelajaran yang sangat penting bagi pemilukada yang akan datang. Mencoreng proses pemilukada saat ini dengan cara-cara yang tidak layak, menggunakan kampanye hitam atau black campaign dan juga menggunakan isu SARA merupakan pelajaran yang tidak bijak untuk pemilukada yang akan datang.

Bayangkan saja jika di setiap tempat ibadah digunakan untuk sarana berkampanye, menjelek-jelekkan lawan politik dengan cara berdakwah. Tentu saja ini bukan sebuah perkembangan yang baik bagi demokrasi Indonesia. Kampanye di tempat ibadah dapat memicu kampanye serupa di tempat ibadah lainnya.

Makanya hal ini harus dihentikan. Penyelenggara pemilu harus bersikap tegas terhadap siapapun yang menggunakan cara melanggar hukum untuk memenangkan calonnya harus ditindak. Siapapun, tak terkecuali. Karena pertaruhannya adalah demokrasi Indonesia, masa depan anak cucu kita semua.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Antara Syukri Ghazali, Syukri Zarkasyi, dan Syukri Rahmatullah

Setiap orang terlahir di dunia ini sudah memiliki nama pemberian orangtuanya. Karenanya dia tidak bisa memilih namanya sendiri. Sebagai rasa terima kasih kepada orangtua, kita pun menerima pemberian nama itu.

Saya pun sama seperti orang kebanyakan yang diberi nama orangtua. Saya diberi nama Syukri Rahmatullah. Sejak kecil kini, seringkali nama ini salah ditulis orang lain. Ada yang menulisnya Supri, ada yang menulis Sukri. Yang lucu, pernah ada orang yang memanggil saya Sukur. Entah dari mana dia dapat, padahal dia memiliki akun BB saya yang tertera jelas nama ID saya; Syukri (okezone.com).

Ada idiom yang menyebut ‘apalah arti sebuah nama’. Sebelum menikah, saya termasuk memegang idiom itu. Sehingga, beberapa kali saya mengganti nama panggilan saya sejak masa di Pesantren ataupun saat kuliah.

Dari orangtua saya juga mendapat nama kecil. Nama kecilnya adalah Oki. Saat di Pesantren kebanyakan orang memanggil saya Syukri. Entah mungkin saat itu, nama kecil itu tidak terasa keren, saya pun menggantinya beberapa kali. Pernah saya mencoret-coret di kertas untuk mencari nama yang keren. Entah apa saja namanya, saat ini saya sudah lupa.

Hingga terakhir di awal tahun 1990-an sedeng tren nama di belakangnya huruf “Y”. Misal asli namanya Aji biar keren diganti jadi Ajay. Ada teman namanya Dody diganti jadi Uday. Tak terkecuali dengan Oki, karena orang terkadang terpeleset memanggil dari Oki menjadi Uki, akhirnya oleh teman-teman diplesetkan menjadi Ukay.

Ini pun terjadi plintiran tulisan lagi. Terkadang teman menulis nama Ukay menjadi Uky. Dan tiga huruf inilah yang kemudian digunakan sebagai kode berita yang saya buat sejak masih di Harian Nonstop hingga kini.

Setelah menikah dan memiliki anak. Saya jadi mengerti pentingnya arti sebuah nama. Bagi saya bukan ‘apalah arti sebuah nama’ tapi ‘nama adalah sebuah doa orangtua’. Itulah yang saya berikan kepada putri pertama kami, Ananda Wardah Wahidah.

Yang saya rasakan sepertinya sama dengan yang dirasakan orangtua muda lainnya. Yang kebingungan mencari nama terbaik untuk anak mereka. Pernah, kakak saya sampai membeli beberapa buku di media hanya untuk mencari sebuah nama. Ada dua motivasi di sini, pertama agar nama anaknya terdengar bagus alias tidak kampungan dan norak. Dan juga mencari makna kata dari nama tersebut, yang merupakan doa dan harapan orangtua terhadap sang anak.

Saat kehamilan istri saya yang kedua. Kami pernah berdiskusi mencari nama terbaik untuk sang calon anak. Sempat terlontar dari mulut untuk memasukkan nama belakang saya “Rahmatullah” di belakangnya. Entah kenapa, sang kakak tiba-tiba kesal dan merajuk. “Kakak gak mau dede dinamain itu”. Saat ditanya dia hanya diam dan menangis. Ternyata si kakak cemburu, kutipan nama ayahnya diletakkan di nama calon adik.

Saya paham. Mungkin dalam posisinya, saya juga akan melakukan hal serupa. Apalagi selama enam tahun belakangan ini rasa kasih sayang kami selalu tercurah kepadanya. Akhirnya pelan-pelan saya jelaskan makna nama yang saya berikan kepadanya.

“Ananda Wardah Wahidah”. Padanan nama tiga kata ini baru marak di tahun 2000-an. Biasanya, nama hanya terdiri dari dua suku kata saja. Bahkan, banyak orang bersuku Jawa hanya diberikan satu suku kata. Seperti teman saya dari Sindo yang hanya diberi nama Suwarno. Saat ingin berangkat haji, saya baru paham kenapa diberi tiga suku kata.

Salah satu alasannya yang masuk akal adalah. Pemerintah Arab Saudi melarang paspor yang hanya bernama satu atau dua suku kata. Minimal harus tiga suku kata. Saya dan Suwarno wajib menambah satu dan dua suku kata, agar kami bisa berangkat liputan haji.

Ananda Wardah Wahidah secara harfiah berarti “anakku bunga mawar pertamaku”. Nama Ananda Wahidah dibuat oleh saya, diselipkan kata Wardah merupakan masukan almarhum ayah saya. Yang esensi dari nama ini adalah kata ‘Wahidah’. Tadinya saya ingin memasukkan kata ‘wahid’, tapi karena perempuan maka ditambah menjadi wahidah.

Kata itu saya ambil karena kekaguman terhadap sosok KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Memang saya tidak dekat dengan beliau, tapi dalam beberapa kali liputan saya memiliki jarak yang dekat dan melihat langsung ekpresi, mimik yang tidak pernah dibuat/direkayasa dalam sebuah sikap. Yang lebih menggetarkan hati saya adalah pembelaannya terhadap sikap minoritas.

Saya sebenarnya pernah menjadi korban pernyataan Gus Dur. Dalam sebuah jumpa pers di PBNU, Gus Dur membela sejumlah Gereja yang ditutup paksa FPI di kawasan Jawa Barat. Saya pun memuat berita tersebut dengan semangat yang sama, membela kaum minoritas. Ternyata FPI tidak terima dan mengadukan Gus Dur ke Mabes Polri. Celakanya, yang dijadikan salah satu barang bukti adalah berita yang saya buat di Harian Nonstop. Alhasil, saya pun diperiksa sebagai saksi selama berjam-jam di Mabes Polri. Meski akhirnya, kasus tersebut tidak pernah berlanjut ke pengadilan.

Doa di nama itu adalah semoga Ananda Wardah Wahidah di masa akan datang menjadi pemimpin yang keras dan tegas seperti Gus Dur dan juga membela minoritas. Saat dijelaskan namanya diambil dari nama Presiden keempat RI, dia pun berganti senang. Dia dapat menangkap yang saya maksud. “Nanda pengin ayah bangga dengan Nanda”.

Saya pun sebenarnya pernah mencari tahu kenapa saya dinamakan Syukri Rahmatullah. Apa maksud dan doa orangtua saya di balik nama itu. Saat pesantren saya baru tahu arti harfiahnya, Syukri Rahmatullah “mensyukuri rahmat Allah SWT”. Mungkin orangtua ingin agar saya menjadi orang yang selalu bersyukur kepada Allah SWT, apapun kondisinya. Karena dalam beberapa cerita orangtua, saat saya dilahirkan kondisi ekonomi keluarga kami memang kurang. Beberapa tahun masa kecil saya, pernah dihabiskan di pinggir kereta. Dulu orangtua pernah mengontrak di dekat Gedung Hijau, sekadang warnanya hitam.

Jika naik kereta dari Tanah Abang menuju Palmerah akan terlihat di sisi kanan, ada sebuah gedung hitam seperti gosong di antara rumah-rumah pinggir rel. Itulah dulu tempat main kami. Mungkin orangtua berharap agar saya menjadi orang yang prihatin dan bersyukur dengan kondisi yang ada.

Penamaan nama Syukri Rahmatullah juga diambil dari nama seorang ulama yang dikagumi Ayah saya. Mungkin beliau berharap keilmuan saya juga seluas ulama tersebut. Tapi, hingga kini belum jelas siapa ulama yang dimaksud.

Saya mencoba mencerna dengan melakukan napak tilas, mencari nama-nama yang berpengaruh di era tahun 70-an. Terdapat dua nama, yaitu Syukri Ghazali dan Syukri Zarkasyi.

Syukri Ghazali adalah seorang ulama kelahiran Salatiga 6 Desember 1906. Dia diangkat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 1981-1984, pas setahun setelah saya dilahirkan. Tak banyak cerita soal Syukri Ghazali yang saya dapat, karena beliau hanya memimpin MUI dua tahun dan digantikan Hasan Basri.

KH Abdullah Syukri Zaskasyi adalah putra dari Imam Zarkasyi, salah satu dari trimurti pendiri Pondok Pesantren Gontor. Beliau lahir 19 September 1942. Selepas wafatrnya KH Imam Zaskasyi, kini KH Syukri Zarkasyi lah yang mengasuh Gontor.

Uniknya dalam sebuah cerita, Gus Dur pernah ‘mengerjai’ Syukri Zarkasyi sewaktu masih belajar di Kairo. Waktu itu, Gus Dur dengan KH Mustofa Bisri menyajikan kopi kepada putra pengasuh Ponpes Gontor ini di kos-kosan mereka berdua. Kemudian, karena kopinya luber, akhirnya Gus Dur meminta Mustofa Bisri untuk mengambil lap. Ternyata lap yang diambil adalah sebuah celana dalam baru. Gus Dur pun beralasan, karena masih baru maka kain itu belum sah dianggap celana dalam, sambil melirik Gus Mus. Karena sudah disajukan, Syukri Zarkasyi akhirnya meminumnya dengan perasaan yang campur aduk.

Entah mana tokoh yang dimaksud almarhum ayah untuk menamakan Syukri Rahmatullah. Yang pasti, saya cukup bangga karena doanya yang sangat besar terhadap anaknya ini. Semoga Allah menerimamu di sisiNYA, Ustaz H Mansyur Rosyidi.

Jumat, 17 Juni 2011

15 Langkah Menembus Narasumber

Melakukan liputan di lapangan, bagi seorang jurnalis bak menjalani sebuah misi dalam peperangan. Karenanya dibutuhkan strategi agar misi bisa berhasil dengan sukses. Melakukan sebuah peliputan tidak bisa mengalir begitu saja seperti air. Harus ada sebuah strategi!

Pembicara sebelumnya telah berbicara mengenai tekhnis reportase. Menyiapkan bagaimana untuk melakukan wawancara yang baik dan benar.

Lalu bagaimanakah jika dalam perjalannya seorang jurnalis menghadapi narasumber yang sulit untuk ditemui, apalagi dimintai komentarnya, bak menghadapi sebuah dinding yang kokoh dan juga tinggi.

Karena itu dibutuhkan strategi untuk menaklukkan tembok besar tersebut.

Pertama, kenali narasumber Anda. Jika Anda tidak mengenal dengan baik siapa yang akan wawancarai, bagaimana Anda bisa berkomunikasi dengan baik.

Misal, narasumber yang akan Anda temui adalah M Nazarudin. Carilah informasi siapa dia? Jabatannya di Partai Demokrat, jabatannya di Fraksi Partai Demokrat, jabatannya di DPR, selain di pemerintahan dia aktif di mana saja. LSM, organisasi kepemudaan, atau perusahaan.

Cari tahu juga mengenai sifatnya. Apakah dia orang yang arogan, pemarah, sombong, atau malah asyik dan mudah untuk diajak bicara apapun.

Hal ini terkadang perlu untuk diantisipasi, agar kita bisa mengukur pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber.

Kedua, perkenalkanlah diri anda kepada narasumber. Nama dan media Anda. Jelaskan secara lugas. Jika Anda berhasil mendapatkan nomor kontak M Nazarudin, hubungi dan perkenalkan diri Anda, media Anda.

Ketiga, sampaikan tujuan Anda mewawancarai dia? Apa topik wawancara Anda dan mengapa itu ditanyakan?. Jika perlu sampaikan kepada narasumber bahwa pernyataannya sangat penting dan ditunggu pembaca.

Keempat, sampaikan kepada narasumber kerugian yang bakal dia dapatkan jika tidak mau berkomentar. Informasi akan dimenangkan pihak lawan dan merugikan dirinya.

Kelima, jika tidak bersedia, mintalah narasumber untuk memberikan satu dua pernyataan. Misal “ya” atau “tidak”, “benar” atau “salah”.

Keenam, Jika sedari awal narasumber diketahui tidak suka dengan topik pembicaraan yang akan disampaikan. Cari tahu topik yang dia sukai, ini bisa dijadikan pintu masuk untuk isu yang ingin ditanyakan.

Ketujuh, Jika tetap tidak bisa. Tutup pembicaraan dengan sopan dan sampaikan mungkin di lain waktu bisa bekerjasama dengan baik.

Kedelapan, jika narasumber tidak mau jangan terus Anda menyerah. Masih banyak cara yang bisa Anda lakukan. Misalnya doorstop, Anda bisa mencegat narasumber di ruang-ruang publik. Saat dia ke luar rumah atau kantor. Tapi, jangan sekali-sekali memasuki ruang privat dan tetap jagalah kesopanan saat mencegat narasumber.

Kesembilan, jika narasumber adalah seorang pembicara. Jurnalis juga menyamar sebagai peserta dg membayar yg memiliki hak untuk bertanya.

Kesepuluh, jika narasumber utama tidak berhasil Anda dapatkan. Cari dan gunakanlah narasumber sekunder untuk menopang data dan informasi yang hendak Anda klarifikasi. Biasanya, narasumber sekunder ini termasuk keluarga, kerabat, rekan kerja, dan lain-lain. Akan tetapi, narasumber sekunder terkadang cukup kuat dalam memberikan informasi, tapi terkadang dia juga lemah. Tergantung kedekatan dan sejauh mana narasumber sekunder mengetahui dan mengenal narasumber primer (utama).

kesebelas, jika narasumber bersedia menemui Anda berpakaianlah yang sopan. Mungkin berpakaian sopan adalah salah satu elemen penting untuk menghargai narasumber. Bagaimana mungkin, anda dapat dihargai narasumber jika Anda tidak menghargainya dengan tidak berpakaian sopan.

Keduabelas, bertanyalah yang sopan hindari menghakimi narasumber. Sekalipun narasumber kita adalah orang yang diduga kuat tersangka dalam sebuah kasus. Tapi hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang menghakimi. Karena pertama, anda bukanlah hakim yg memutuskan mana yg benar dan mana yang salah. Seorang jurnalis harus mengedepankan asas praduga tidak bersalah.

Ketiga belas, gunakanlah sedikit guyonan agar wawancara tidak berlangsung kaku. Biasanya wawancara yg berlangsung cair, bakal mengeluarkan informasi-informasi yang lebih banyak.

Keempat belas, jangan suka memotong pembicaraan. Memotong pembicaraan orang adalah hal yg tidak baik, karena anda tidak tengah melakukan talkshow yang waktunya sempit. Biarkanlah narasumber berbicara banyak. Jika memang dirasa terlalu melebar, cobalah kembalikan alur pembicaraan dengan sopan.

Kelima belas, pilih tempat yang netral. Jika Anda berhasil membujuk narasumber untuk bertemu dalam sebuah wawancara, jika materi yang akan ditanyakan sangat sensitif pilihlah tempat yang netral dan terbuka. Misalnya café di mall atau tempat terbuka lainnya. Hal ini dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, jika narasumber tidak senang dan marah terhadap materi yang ditanyakan.

Dalam setiap kasus tentu saja berbeda penanganannya. Dalam hal ini bergantung pada kreativitas seorang jurnalis untuk membuat strategi agar narasumber mau kita temui dan juga berbicara banyak sebagaimana yang diinginkan.

Yang pasti ada beberapa sikap yang harus dimiliki seorang jurnalis dalam melakukan tugas peliputan.

Pertama, jadikan profesi jurnalis sebagai panggilan hati. Banyak orang yang menjadikan profesi jurnalis hanya sebagai jembatan untuk meraih profesi tertentu. Misalnya, agar dekat dengan partai tertentu dan menjadi calon anggota DPR dari partai tersebut.

Kedua, jadilah pemberani. Seorang jurnalis sebenarnya juga sosok yang religius. Apapun agama Anda, pasti percaya bahwa yang maha kuat adalah Tuhan. Jika Anda memegang teguh seperti ini, maka siapapun, setinggi apapun posisinya, segarang apapun orangnya. Anda pasti memiliki keberanian melakukan wawancara.

Ketiga, bulatkan tekad. Seorang jurnalis harus memiliki tekad yang bulat. Jadi, tak ada cerita bahwa tak ada tugas yang tidak terselesaikan. Karena si jurnalis terus melakukan upaya dengan berbagai macam cara untuk menuntaskan misi yang diembannya.

Semisal, jika tidak ada kebulatan tekad. Si jurnalis pasti tidak akan mau jika diminta korlipnya untuk menongkrongi rumah M Nazarudin atau sebuah tempat yang diduga persembunyian Nazarudin.

Keempat, bersikap santunlah. Jurnalis bukanlah segerombolan preman yang garang dan menakutkan. Jangan mentang-mentang wartawan, Anda bisa bertindak seenaknya terhadap narasumber. Anda juga harus bisa menunjukkan bahwa seorang jurnalis adalah sosok yang santun dan menjaga etika dalam menjalankan tugasnya.

Bukannya menaiki kap mobil narasumber seperti yang terjadi pada kendaraan Nicky Astria atau menggedor mobil narasumber.

Kelima, bersabarlah. Seorang jurnalis harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi. Apalagi saat dituntut menunggu narasumber yang memiliki kesibukan yang seabreg atau pemeriksaan yang berlangsung lama.

Pada akhirnya tulisan di atas hanyalah teori-teori di atas kertas, sebagian berdasarkan pengalaman. Tapi, tentunya setiap pengalaman orang pasti berbeda-beda. Andalah penentu strategi di lapangan ada di tangan Ada.

Semoga berhasil!

*materi ini disampaikan dalam pelatihan jurnalistik reporter Okezone.com pada 17 Juni 2011.

Mencurigai Kursi Haram di DPR

Jum'at, 17 Juni 2011 - 13:22 wib
*diterbitkan di okezone.com

Nila setitik rusak susu sebelanga. Peribahasa ini cocok menggambarkan pemalsuan surat keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai sengketa pemilu di daerah pemilihan Sulawesi Selatan antara Dewi Yasin Limpo dari Hanura dengan Mestariani Habie dari Gerindra.

MK memutuskan kursi jatuh kepada Mestariani Habie pada tanggal 17 Agustus 2009. Akan tetapi, KPU malah memutuskan kursi jatuh kepada Dewi Yasin Limpo, berdasar keputusan KPU tanggal 14, yang diduga adalah palsu.

Dengan adanya dugaan pemalsuan ini, para politisi Senayan patut curiga kepada Andi Nurpati. Karena kini, setelah keluar dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Andi dapat jabatan sebagai Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi Publik di DPP Partai Demokrat.

Sekalipun surat MK yang dipalsukan tersebut tidak berkaitan dengan caleg dari Partai Demokrat, tapi tetap saja politisi Senayan gerah dengan peristiwa ini dan menduga ada konspirasi lebih besar terkunci di kotak pandora. Mungkin mereka curiga ada permainan Andi Nurpati terhadap kemenangan Partai Demokrat pada Pemilu 2009 lalu.

Karena itulah Panja Mafia Pemilu kini tengah diwacanakan di Komisi II DPR untuk dibentuk, guna menyusut dan mencari tahu apa saja dugaan kecurangan yang dilakukan Andi Nurpati. Mereka berharap Panja ini mampu menjadi kunci untuk membuka kotak Pandora.

Berkaca ke belakang, Partai Demokrat merupakan partai tengah yang penuh kejutan. Karena baru ikut pemilu tahun 2004 lalu langsung mencelat pada ke posisi kelima dengan memperoleh 7,45 persen atau 8.455.225 suara. Dengan bekal ini Partai berlambang mercy ini mendapatkan 57 kursi di DPR.

Dengan perolehan suara ini, Partai Demokrat bersama koalisinya berhasil menghantarkan SBY sebagai presiden pertama yang dipilih secara langsung. Lima tahun kemudian, berbeda dengan dua partai besar seperti Partai Golkar dan PDI Perjuangan yang terus menurun suaranya. Partai Demokrat justru melesat 100 persen lebih pada Pemilu 2009.

Pada pemilu ini, Demokrat langsung menyalip ke posisi pertama, mengangkangi Partai Golkar , PDI Perjuangan, dan Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Partai Demokrat berhasil mendapat 20,4 persen atau 21 juta suara . Suara ini naik 100 persen lebih dari pemilu 2004. Begitu juga dengan kursi yang mereka dapatkan di DPR, jika pada Pemilu 2004 hanya 57 kursi, kali ini mereka mendapat 150 kursi atau 26,4 persen.

Bisa saja latar belakang ini menjadi kecurigaan para politisi di Senayan terhadap Partai Demokrat. Apalagi mengingat dua anggota KPU pada pemilu 2004 dan 2009, kini menjadi orang penting di DPP Partai Demokrat. Yaitu Anang Urbaningrum, dulu anggota KPU 2004 kini Ketua Umum Partai Demokrat. Begitu juga Andi Nurpati.

Jika dugaan kecurangan ini benar adanya maka bisa menjadi malapetaka politik yang dahsyat bagi negeri ini. Karena suara dan aspirasi jutaan pemilih telah dikelabui oleh segelintir orang yang notabene adalah wasit permainan (KPU). Jika benar, para politisi dan juga penegak hukum telah kecolongan.

Ke depan sudah seharusnya wasit pemilu yang berlangsung lima tahunan ini harus lebih ketat lagi mengawasi tingkah polah para wasit. Agar dugaan kecurangan, manipulasi tidak terjadi lagi.

Isu ini juga menjadi tantangan besar yang harus dituntaskan Partai Demokrat, selain kasus M Nazarudin. Mereka harus membuktikan bahwa suara dan kursi yang mereka dapatkan dilakukan secara murni, bukan dengan manipulasi. Karenanya, terbukalah kepada masyarakat. Hanya itu caranya untuk mengembalikan kebenaran.

Apakah Demokrat siap menjawab tantangan ini?

Kamis, 09 Juni 2011

Menguji (lagi) Dinasti Soeharto

Jum'at, 10 Juni 2011 - 11:46 wib
*diterbitkan di okezone.com

BARU-baru ini Partai Nasional Republik mendaftarkan diri ke Kementerian Hukum dan HAM sebagai calon peserta pemilu 2014. Sepintas tidak ada yang menarik, terkecuali nama Dewan Pembina partai tersebut tertera nama Tommy Soeharto.

Memang, Ketua Dewan Pendiri PNR, Neneng A Tuty, mengakui 990 pendiri partai ini mendapuk Tommy Soeharto sebagai daya tarik partai. Mereka berhasil, setidaknya menjadi daya tarik bagi media massa untuk mengetahuinya. Belum tentu pemilih.

Desas-desus Tommy bakal mendirikan partai sebenarnya sudah terdengar sejak jauh-jauh hari. Sejak dia terjegal persyaratan sebagai calon ketua umum partai Golkar pada September 2009 lalu. Sejak saat itu sudah berhembus kabar, Tommy akan membuat ‘sekoci baru’.

Tak hanya Tommy, putri sulung mantan Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut sebenarnya juga pernah membesut Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang ikut bertarung dalam pemilu 2004 dan 2009 lalu.

Sayangnya, Tutut gagal dalam melanjutkan warisan Soeharto yang berhasil menjadikan Partai Golkar selalu menjadi partai pemenang pemilu selama orde baru.

Pada pemilu 2004, PKPB memperoleh 2.399.290 atau 2,1 persen suara. Saat itu posisi partainya berada di peringkat 11, posisi pertama ditempati Partai Golkar disusul PDIP. Meskipun keduanya posisi pertama, suara kedua partai ini menurun cukup lumayan ketimbang pemilu 1999.

Pada pemilu selanjutnya, perolehan suara PKPB juga menurun 1.461.182 atau 1,4 persen suara dan turun menjadi peringkat ke-12. Pada pemilu ini, Golkar dan PDIP disalip Partai Demokrat di posisi pertama.

Kedua hasil pemilu ini merupakan pesan dari rakyat secara langsung, bahwa mereka tidak menginginkan kembalinya dinasti Soeharto ke tampuk kekuasaan. Uniknya, hasil kedua pemilu ini tidak berbanding lurus dengan hasil survei yang dilakukan Indobarometer berdekatan dengan kemunculan Partai Republik Nasional.

Lembaga survei yang dipimpin Muhammad Qodari ini mengungkapkan, masyarakat lebih mencintai Soeharto ketimbang pemimpin pascareformasi. Soeharto mendapat dukungan 36.5 persen, SBY 20,9 persen, Soekarno 9,8 persen, Megawati 9,2 persen, Habibie 4,4 persen, dan Gus Dur 4,3 persen.

Disebutkan juga, 40,9 persen dari 1.200 responden menilai orde baru lebih baik ketimbang masa reformasi. Hanya 22,8 persen yang menilai masa reformasi lebih baik.

Entah mana yang benar, apakah hasil survei yang melibatkan 1.200 orang atau hasil Pemilu 2004 dan 2009 yang melibatkan 220 jutaan rakyat di bilik suara. Tak ada yang salah memang jika keluarga Soeharto ikut bertarung lagi dalam Pemilu 2014. Karena setiap masyarakat memiliki hak untuk dipilih dan dipilih. Tapi, tak ada salahnya juga untuk membaca dua pesan masyarakat dari dua pemilu sebelumnya. Semoga saja, pesan dari rakyat selanjutnya dapat dibaca dengan baik dan tidak disesatkan beberapa pihak yang mungkin saja memanfaatkan keluarga Soeharto demi keuntungan sesaat.

Kamis, 28 April 2011

Teroris dari Gang Pesanggrahan

Syukri Rahmatullah
Kamis 28 April 2011.

Di tengah perjalanan pulang kantor ponsel saya bergetar, ternyata di salah satu forum BB mengabarkan ‘polisi tangkap sutradara film aceh, diduga teroris’. Mendapat info ini, saya pantulkan ke email kantor agar ditindaklanjuti.

Sepintas tak ada yang aneh dari informasi itu, saya menganggapnya hal biasa yang sama seperti informasi lainnya yang datang mengabarkan sebuah kejadian. Ternyata keesokan harinya, sutradara tersebut adalah otak pelaku bom buku yang dikirim ke kantor Ulil, Yapto, dan Ahmad Dhani.

Yang mengejutkan pelaku berinisial ‘P’ itu kabarnya adalah alumni mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN), tempat saya pernah menimba ilmu selama empat tahun.
Dari sini saya masih bersikap biasa, karena sebelumnya pernah ada penggerebekan di salah satu kos-kosan mahasiswa yang ternyata dihuni teroris, kasus ini juga melibatkan alumni Universitas Islam Negeri (UIN).

Yang lebih mengejutkan ternyata pria berinisial ‘P’ ini bernama Pepi dan dia ternyata adalah orang yang pernah kongkow dengan saya dan kawan-kawan di Gang Pesanggrahan, samping kampus UIN.

Pepi hanya salah satu dari banyak orang yang mungkin berbeda dengan kami -aktivis gerakan UIN- tapi tetap saja berteman dan kongkow. Seingat saya, Pepi bukanlah aktivis, dia tidak pernah terlibat dalam gerakan mahasiswa,

Kejutan belum selesai, Pepi ternyata adalah pemimpin dari 19 orang lainnya yang berhasil dia pengaruhi untuk membuat dan menyebarkan bom buku. Ternyata ada beberapa lagi alumni UIN yang terlibat, sebut saja Muhammad Maulana Sani alias Maulana alias Alan. Dia pernah kuliah di jurusan sastra Arab UIN Syahid Jakarta.

Ada lagi Hendi Suhartono alias Tono alias Zokaw. Dia S1 fakultas filsafat Ushuludin UIN. Ada juga Muhammad Fadil, dia juga satu jurusan dengan Tono alias Jokaw.
Selain alumni UIN ada juga yang bukan jebolan kampus atau hanya lulusan SMA yang terlibat, seperti Mohammad Syarif alias Aip alias Culik.

Saya kurang hapal benar dengan Pepi. Mungkin jika melihat wajahnya akan mengingat kembali dia adalah orang yang pernah nongkrong di Jalan Pesanggrahan. Tapi, ada beberapa nama yang saya ingat dan masih hapal wajahnya.

Misalnya M Maulana yang biasanya kami panggil Alan. Jika benar dia adalah angkatan 1997 dan pernah ngekos di lantai 2 persis dekat samping pintu kampus, dia adalah Alan yang kami kenal.

Beberapa teman yang sama-sama sering kongkow juga mengenal Jokaw. Tapi, jujur saya lupa wajahnya, sama seperti Pepi. Mungkin jika melihatnya saya akan mengenalnya.
Ada satu lagi yang saya kenal dan ini sudah pasti dia. Dia adalah Muhammad Syarif alias Aip. Kami biasa memanggilnya Culik. Dia adalah warga yang tempat tinggalnya berdekatan dengan kampus. Melalui tongkrongan saya sempat mengenal dia, bahkan dia pernah mengikuti beberapa aksi demontrasi yang pernah kami lakukan di luar kampus sebagai massa cair.

Sampai sekarang saya seolah tak percaya jika mereka benar-benar terlibat dalam kasus terorisme. Karena, mereka bukan berasal dari kelompok organisasi rohis kampus seperti KAMMI atau dekat dengan kelompok pengajian masjid atau kelompok kecil lainnya.

Mereka, dulunya, adalah orang-orang abangan, anak tongkrongan, yang sering menghabiskan waktu dengan minum di malam hari, dan lain-lain yang jauh dari
aktivitas keagamaan. Jadi jujur saya heran.

Dari peristiwa ini saya mendapatkan dua kesimpulan. Pertama, keyakinan seseorang bisa saja mudah berubah. Dari yang tadinya disebut ‘anak nakal’ malah sekarang berjihad. Tergantung ruang (kondisi sekitar dia) dan juga waktu.

Kedua, jangan pernah merasa benar-benar mengenali dengan baik sekeliling Anda. Bisa jadi dia teman Anda sekarang, tapi kemudian berubah menjadi orang yang tidak Anda kenal sama sekali.

Yang pasti jagalah diri Anda da keluarga dari serbuan ‘pengaruh’ kelompok Islam keblinger. Yang mengaku mengenal Tuhan padahal mereka jauh dari Tuhan. Semoga Allah memberikan mereka hidayah…amien.

Menguji Ketajaman Pedang Keadilan



Syukri Rahmatullah
Kamis, 28 April 2011 - 11:49 wib

LEMBAGA peradilan kembali diuji. Kali ini dalam kasus mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar. Apakah pedang hukum mampu menunjukkan keadilan atau justru sebaliknya.

Kasus Antasari Azhar belakangan ini kembali disorot setelah adanya surat kaleng yang datang kepada kuasa hukum terpidana penembakan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen, Daniel Daen Sabon, yaitu Mbalembout.

Mbalembout mengaku menerima surat tersebut pada 17 April lalu. Surat yang diketik itu dikirimkan melalui pos. Apakah surat kaleng ini benar?

Memang surat kaleng ini tidak bisa dijadikan bukti hukum bahwa kasus ini merupakan konspirasi segelintir elit yang ingin ‘menendang’ Antasari dari KPK.

Tapi pengakuan ini bukanlah yang pertama kali. Sebelumnya, mantan Kapolres Jakarta Selatan, Komisaris Besar Polisi Williardi Wizard membuat pengakuan mengejutkan di pengadilan. Dia mengaku adanya rekayasan berita acara pemeriksaan yang dilakukan petinggi Polri dalam kasus ini.

Williardi mengungkap, seorang penyidik memintanya merekayasan BAP agar menyudutkan Antasari Azhar. Dia diiming-imingi akan dibebaskan dari kasus ini. Karena janji tak dipenuhi, Williardi pun membongkar rekayasa tersebut dan mencabut BAP yang telah dia lakukan.

Rekayasa berita acara pemeriksaan, memaksakan seseorang menjadi tersangka, atau salah tangkap bukan hal baru di negeri ini. Masih ingat kasus Imam Chambali alias Kemat di Jombang tahun 2008 lalu?.

Saat itu, Kemat bersama David Eko Priyanto, dan Mamat Sugianto alias Sugik ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan seorang pria bernama Asrori alias Aldo di Kebun Tebu Dusun Braan Desa Kedungmulyo, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang, 24 September lalu.

Korban yang tidak dikenal ketiganya ini dibunuh di sebuah rumah kosong lalu dibawa ke kebun tebu untuk dibakar dengan pelumas mobil. Tak tahan disiksa di dalam penjara, Kemat dan David akhirnya terpaksa mengakui. Sedangkan Sugik menolak mengaku dan terus dipukuli. Kemat pun divonis 17 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jombang Jawa Timur.

Belakangan polisi ternyata salah identifikasi, ternyata mayat tersebut bukanlah Asrori, melainkan Fauzin Suyanto. Fauzin merupakan korban pembunuhan yang dilakukan Ryan, seorang gay dari Jombang yang ditangkap karena membunuh pacar sesama jenis di Depok, Jawa Barat.

Kasus salah hukum juga pernah dialami Sengkon dan Karta pada tahun 1970-an. Keduanya ditangkap dan menjalani hukuman bertahun-tahun karena sebuah kejahatan yang tak dilakukannya.
Keduanya malah bertemu pembunuh asli Sulaiman dan Siti Haya, yaitu Gunel. Dia ditangkap dan dipenjara karena kasus lain. Karena kasihan melihat Sengkon sekarat dan hampir meninggal dunia di LP Cipinang, akhirnya Gunel pun mengaku jujur bahwa dia lah pembunuh sebenarnya.

Dalam hal ini penulis tidak bermaksud menyamakan bahwa kasus Antasari Azhar sama dengan kasus Kemat dan Sengkon-Karta. Tetapi, dalam kasus Antasari Azhar ini penegak hukum kembali diuji, apakah mampu menegakkan keadilan atau hanya menjadi kepanjangan tangan dari pelaku konspirasi yang sengaja menjerat seseorang agar masuk ke dalam penjara.

Setidaknya pengakuan Williardi patut menjadi perhatian bahwa kepolisian kita masih memaksakan kehendaknya dengan melakukan rekayasa berita acara pemeriksaan. Jika praktek seperti ini masih terus berlangsung, maka keadilan yang seharusnya bisa tercipta melalui lembaga hukum sangat mustahil diharap.

Kasus Antasari Azhar ini merupakan tantangan berat bagi lembaga peradilan untuk membuktikan jika memang benar masih ada keadilan di negeri ini.

*http://suar.okezone.com/read/2011/04/28/59/450898/menguji-ketajaman-pedang-keadilan

Berantas Gerakan Cuci Otak NII KW9

Syukri Rahmatullah
Rabu, 20 April 2011 - 13:55 wib

PENCULIKAN yang marak kembali terjadi di Tanah Air disinyalir dilakukan kelompok Negara Islam Indonesia (NII) KW9.

Setidaknya ada dua peristiwa penculikan yang menunjukkan pola yang sama dan mengarah kepada aktivitas NII KW9. Yaitu penculikan terhadap sembilan orang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan penculikan terhadap pegawai perempuan dari Kementerian Perhubungan bernama Lian Febriarni.

Fenomena penculikan orang untuk dicuci otaknya agar ikut kepada gerakan mereka ini sudah terjadi sejak tahun 1990-an. Akan tetapi, sampai saat ini gerakan cuci otak tersebut masih terjadi.

Gerakan cuci otak yang dilakukan NII KW9 ini memang terbilang unik. Pola hit and run yang mereka lakukan tak hanya menyulitkan orangtua korban dalam proses pencarian anak mereka yang berhasil direkrut aktivis NII KW9.

Dari beberapa mantan korban ‘penculikan’ yang sempat berbincang dengan penulis, ada beberapa kesimpulan mengenai pola yang dilakukan aktivis NII KW9 ini adalah mengincar korbannya. Pertama, yang diincar mereka adalah orang yang dalam usia labil. Makanya yang banyak diculik adalah dari kalangan sekolah menengah atas dan mahasiswa yang masih dalam proses pencarian jati diri.

Kedua, mereka mengincar orang yang tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup. Atau sekalipun pernah mengenyam pendidikan agama, tidak teguh dalam bersikap.

Makanya, dalam proses merekrut korban. Aktivis NII juga melihat terlebih dahulu kapasitas korban dalam pengetahuan agamanya. Jika korban diajak diskusi soal agama dan tidak kritis atau ngeyel, maka ini adalah calon potensial untuk menjadi target mereka.

Di awal pertemuan, biasanya aktivis NII ini tampil dengan penampilan yang perlente, jauh dari kesan agamis yang berjubah dan berjenggot tebal. Akan tetapi, mereka memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengagitasi korbannya dengan sejumlah dalil-dalil alquran untuk membenarkan argument mereka.

Setelah korban masuk dalam kategori potensial, barulah aktivis NII KW9 tersebut membawa mereka ke dalam lingkungan pertama mereka untuk mendapat doktrin lebih lanjut. Salah satu kawan saya mengaku pernah dibawa ke dalam suatu rumah dan di sana dia mendapatkan doktrin setiap saat dan diharuskan membaca buku-buku mereka. Dia tidak diperbolehkan pulang.

Dalam fase ini, ada juga yang berhasil kabur dan mengalami syok. Karena tidak kuat dengan doktrin dan keharusan membaca buku yang membenarkan argumentasi mereka itu.

Biasanya yang berhasil kabur itu, akan terus dikejar dengan dihubungi ataupun didatangi rumah atau tempat tinggalnya. Jika tidak berhasil dibawa kembali, biasanya aktivis NII ini akan berpindah tempat mencari tempat tinggal baru untuk menghilangkan jejak jika si korban membocorkan lokasi tempat mereka.

Menelusuri NII ini tidaklah mudah, karena mereka tergolong ketat dalam menyeleksi kadernya. Ada banyak fase, sehingga korban yang baru saja berhasil masuk ke dalam kelompok mereka tidak mudah dapat bertemu dengan pemimpin NII KW9 regional apalagi di tingkat pusat.

Melihat tipologi di atas sebenarnya yang menjadi pokok utama adalah mengenai penyesatan pembelajaran agama. Karenanya, saat ini sangat penting untuk mengenal latar belakang guru ngaji atau ustaz yang mengajar agama. Di mana dia menimba ilmu agama dan seperti apa tempat dia menimba ilmu.

Kemudian, yang penting juga adalah pendampingan keluarga. Karena, kebanyakan yang terjadi adalah keluarga kurang mendampingi korban dalam proses pembelajaran agama. Sehingga, ketika doktrin agama yang menyesatkan masuk sangat sulit untuk ditanggulangi.

Hal ini sebagaimana terjadi kepada pelaku pengeboman di Cirebon yaitu M Syarif. Orangtuanya, Abdul Ghofur mengaku anaknya berubah setelah mengikuti salah satu pengajian. Dalam sebuah kesempatan, M Syafir mengkafirkan ayahnya dalam berdiskusi soal agama.

Selain dua pencegahan di atas. Yang lebih penting adalah tindakan dari pemerintah melalui aparat keamanan. Aparat keamanan seharusnya lebih sikap dalam menyikapi pergerakan NII KW9 ini. Karena gerakan ini sudah terjadi di Indonesia sejak dua dasawarsa lalu dan korbannya juga cukup banyak.

Sudah sepatutnya NII KW9 ini menjadi target operasi intelijen Tanah Air. Karena kelompok ini dapat mengancam kedaulatan negara. Jangan menunggu penculikan lagi terjadi!

Norman dan Wibawa Kepolisian


Syukri Rahmatullah
Kamis, 7 April 2011 - 12:12 wib

ANGGOTA Brimob Gorontalo, Briptu Norman Kamaru, mendadak terkenal berkat aksinya di Youtube, menyanyi lipsync dan berjoget India saat bertugas. Polemik pun mencuat, apakah yang dilakukan Norman itu dibenarkan atau tidak.

Adalah anggota DPR Komisi III, Ruhut Sitompul, yang menyoal aksi Norman. Dia menyebut aksi Norman tersebut tidak pantas apalagi sedang bertugas. Di samping dia juga, seorang anggota Brimob lainnya sibuk mengetik SMS. Di mata Ruhut, tindakan anggota Brimob Gorontalo ini menyalahi etika dan menjatuhkan wibawa polisi, dia harus mendapat sanksi

Apakah benar aksi Norman tersebut dapat menjatuhkan wibawa kepolisian dan dia patut mendapatkan sanski? Tampaknya hal ini sangatlah berlebihan. Mengingat aksi Norman hanyalah aksi biasa saja, tak bedanya dengan Shinta-Jojo yang menari dengan lagu “Keong Racun” dan Bona yang menyanyikan “Gayus Tambunan”.

Kemungkinan besar, aksi penggemar berat Shah Rukh Khan, karena mengikuti jejak Shinta-Jojo dan Bona. Buktinya, saat dia diberikan sanksi untuk menghibur rekan-rekannya di lapangan dan disorot media, Norman tampak menikmati dan tak ada beban berat sama sekali. Jangan-jangan Norman ingin terkenal melalui Youtube?

Selain itu, Norman juga mengupload video lainnya berjudul Polisi Gorontalo Idol. Bedanya, dia menyanyi berdua temannya dan tidak berseragam polisi. Apakah tindakannya ini sebuah pelanggaran, tampaknya tidak juga. Apa tidak boleh polisi mengekspresikan diri?. Mengenai seragam, beberapa waktu lalu juga pernah ada seorang polisi Ambon mengikuti sebuah acara pencarian bakat di salah satu televisi. Apakah itu sebuah kesalahan?

Tampaknya tidak juga. Justru yang menjatuhkan wibawa polisi adalah anggota polisi yang menggunakan seragamnya melakukan pungli di jalanan kepada para pengendara dengan berbagai alasan. Polisi yang menggunakan seragam dan wewenangnya untuk menakut-nakuti orang dari etnis tertentu ketika terkena kasus.

Justru yang bermasalah adalah polisi yang meskipun tidak berseragam tetapi menjadi beking dari diskotik-diskotik, beking penjual DVD porno di Glodok. Dalam survei yang dilakukan Transparancy Internasional (TI), Polri merupakan salah satu institusi yang masih sarat akan suap. Bahkan peringkatnya sangat tinggi.

Karenanya lebih baik DPR Komisi III, Propam Polri dan lembaga terkait mengurusi polisi-polisi yang menyalahgunakan wewenangnya tersebut. Bukannya malah sibuk mengurusi Norman. Karena, Norman sudah berhasil menyedot perhatian media, tidak usah diurusi lagi.

Tinggal tunggu saja, rekaman album atau single Norman keluar.

Bintang Porno & Kemajuan Film Tanah Air

Syukri Rahmatullah
Kamis, 31 Maret 2011 - 13:03 wib

BEBERAPA waktu lalu Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata merencanakan pengurangan pajak untuk pembuatan film lokal. Hal ini diharapkan mampu mendorong para sineas lokal untuk berkreatif dalam meningkatkan produktivitas dan mutu film Tanah Air.

Tak lama berselang, Maxima Pictures berencana mendatangkan bintang porno asal Jepang untuk yang ketiga kalinya. Setelah Rin Sakuragi dan Miyabi, kini mereka akan mendatangkan bintang porno bernama Sora Aoi.

Memboyong bintang porno luar negeri tak hanya dilakukan Maxima Pictures, K2K Production juga mendatangkan bintang porno. Kali ini berasal dari Negeri Paman Sam, Tera Patrick.

Entah apakah strategi dua rumah produksi tersebut sejalan dengan semangat pemerintah dalam meningkatkan mutu dan produktivitas film Tanah Air? Kalau dari segi produksi, mungkin bisa dibilang ada peningkatan. Bayangkan saja, Maxima yang telah berdiri 2006 lalu telah membuat 20 film, kebanyakan didominasi film horor dan komedi. Di antaranya ada Air Terjun Pengantin, Menculik Miyabi, Hantu Tanah Kusir, dan Suster Keramas.

Produksi film Tanah Air memang beberapa tahun ini meningkat dibandingkan tahun 1992 yang hanya 41 film dalam setahun, 1998 hanya 11 film, bahkan tahun 2001 hanya empat buah film nasional saja.

Tahun 2010 kemarin film nasional sudah mencapai 70 buah film, tahun ini ditargetkan mencapai 100 buah film. Akan tetapi bagaimana dengan mutunya. Di tahun 2010 memang film nasional meningkat

Pertanyaan selanjutnya, apakah hanya jumlah film saja yang kita tingkatkan. Bagaimana kabar dengan mutu film Indonesia. Apakah akan dibiarkan film nasional berbau esek-esek ini terus muncul. Padahal, secara penjualan tak sebagus film nasional lain yang tidak berbau esek-esek.

Contohnya, film yang dibintangi Rin Sakuragi ternyata tak mampu menyaingi film yang Air Terjun Pengantin yang diproduksi PH yang sama. Keduanya, juga belum mampu bersaing dengan pendapatan film Ayat-Ayat Cinta dan juga Laskar Pelangi.

Di samping itu juga masih banyak sineas yang memiliki idealisme dalam membuat film. Sebut saja Mira Lesmana dan Riri Reza yang terus berupaya mengangkat film nasional baik secara kuantitas dan juga kualitasnya. Terbukti dua film terakhir yang mereka sajikan selalu diburu para pecinta film.

Lihat juga Hanung Bramantyo, yang mengangkat produksi film nasional melalui Ayat-Ayat Cinta dan Sang Pencerah. Dan yang tak kalah idealis adalah Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Pasangan selebriti yang pernah menggarap film Senandung di Atas Awan ini sering menggarap film bertema nasionalisme, seperti King dan Tanah Air Beta.

Artinya dari sini terlihat jelas. Bahwa, kuantitas dan kualitas masih tetap perlu berjalan seiring seirama dalam memajukan film Tanah Air. Tinggal bagaimana niat baik pemegang wewenang, dalam hal ini Kemenbudpar, Lembaga Sensor Film, dan juga pelaku, sutradara, aktor, dan aktris.

Bom Buku Ingin 'Dibaca' Siapa?

Syukri Rahmatullah
Jum'at, 18 Maret 2011 - 12:04 wib

Bom Buku memang menarik untuk dibaca. Karena hingga saat ini belum diketahui secara pasti motifnya untuk apa. Sehingga, banyak pihak yang mencoba memelesetkan tujuan si pengirim bom dengan tafsirnya sendiri-sendiri.
Misalnya, saat bom meledak di kawasan kantor lama Ulil Absar Abdalla di Jaringan Islam Liberal dan melukai Kasat Reskrim Jakarta Timur, Kompol Dodi. Kala itu, Ulil langsung menafsirkan bom buku tersebut bertujuan politis karena perannya di Partai Demokrat. Dikaitkan juga dengan permasalahan koalisi yang tengah menghangat.

Tapi ternyata bom buku tidak hanya datang ke eks kantor Ulil, kantor Goris Mere dan rumah Ketua Umum Pemuda Pancasila, Yapto S. Dua hari setelahnya bom juga menyasar ke rumah artis Ahmad Dhani.

Tampaknya Ulil dan rekan-rekannya di Partai Demokrat terlalu cepat menyimpulkan bom buku menyasar partai besutan Presiden SBY tersebut.

Ditambah lagi kesimpulan pengamat politik Bachtiar Effendy dan anggota DPR Effendy Choirie yang menilai bom tidak ditujukan kepada Ulil secara personal. Karena Ulil belum lama baru pulang kuliah dari luar negeri dan belum terlihat perannya di Partai Demokrat. Sehingga belum memiliki ‘ancaman serius’ bagi orang lain.

Ada analisis mengatakan, Ulil hanya dijadikan simbol Jaringan Islam Liberal. Kelompok masyarakat yang dianggap nyeleneh dan membuat penafsiran tersendiri, sehingga mengancam keberadaan Islam.

Hal ini diperkuat dengan ancaman bom kepada Goris Mere yang pernah menjadi pentolan Densus 88, detasemen yang terus memburu dan menghancurkan kelompok teroris. Begitu juga Ahmad Dhani, yang belakangan disebut-sebut kelompok Islam kanan sebagai agen Yahudi.

Terlepas dari berbagai analisis di atas. Saat ini masyarakat dalam kondisi resah dan ketakutan. Sehingga tidak berani membuka paket berisi buku yang datang ke rumah mereka. Misalnya Indra, warga di Pondok Indah yang memanggil Gegana karena mendapat kiriman buku dari orang yang tidak dikenalnya.

Dalam hal ini intelijen bisa saja disebut kecolongan. Karena tidak dapat mengantisipasi gerakan teroris yang kini hidup kembali dan membuat situasi mencekam kembali. Mengutip mantan kepala BIN Hendropriyono, seharusnya intelijen tidak melepaskan pengawasannya dari kelompok teroris seperti ini.

Intelijen harus tetap menaruh orang di kelompok ini dan terus mengawasi pergerakan mereka agar tidak ada lagi ancaman-ancaman bom yang berpotensi mengancam keselamatan masyarakat.

Imbauan Presiden SBY belakangan diharap bisa menjadi pendorong bagi kalangan intelijen di kepolisian, TNI, dan juga BIN agar bergerak lebih cepat lagi dalam menyingkap siapa sebenarnya pelaku pengirim bom tersebut. Agar tidak terjadi saling tuding mengenai pengirim bom.

Dan yang pasti agar masyarakat merasa terlindungi dan tidak lagi dalam kondisi terancam.

Mainanku Mautku

Syukri Rahmatullah
Jum'at, 11 Maret 2011 - 12:02 wib
Syukri Rahmatullah.

BERMAIN seharusnya menjadi hal yang menyenangkan bagi anak-anak. Tapi, apa jadinya jika permainan justru berujung maut.

Tewasnya seorang bocah kelas 1 SD di Depok, Rivaldi, di tangan kawannya sendiri, Rsk (11) harus menjadi perhatian serius. Apalagi, dia tewas karena tertusuk besi di bagian kepala yang mereka jadikan alat permainan mereka.

Permainan yang dilakukan Rivaldi dan Rsk tergolong sadis. Mereka bermain perang-perangan dengan teman-temannya dengan menggunakan peralatan yang tidak semestinya.

Di Amerika Serikat sebanyak 235.000 anak sepanjang tahun 2008 masuk unit gawat darurat karena mengalami luka akibat mainan mereka.

Pada tahun yang sama, 19 orang meninggal karena mengalami kecelakaan mainan mereka. Kebanyakan anak mengalami tersedak karena menelan mainan kecil.

Di Indonesia, akhir tahun 2010 sebanyak 20 anak masuk unit gawat darurat dan 8 di antaranya terancam buta permanen. Mereka masuk UGD, setelah bermain perang-perangan dengan pistol mainan yang pelurunya mengenai mata mereka.

Dari fenomena ini, mainan bisa menyenangkan dan juga berbahaya. Karenanya, perhatian serius terhadap mainan dan permainan anak haruslah ditingkatkan.

Setidaknya terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dari fenomena ini. Dari segi regulasi, pemerintah seharusnya menjaga ketat mainan yang masuk ke Indonesia. Mainan yang bisa membuat cedera bahkan mencabut nyawa, sebaiknya sudah disetop dan dilarang peredarannya.

Kedua, anak-anak adalah peniru yang ulung. Karenanya, sebaiknya mereka tidak melihat kekerasan baik secara verbal ataupun melalui media. Karenanya, media seperti televisi berperan penting untuk mencegah kekerasan di kalangan anak-anak dengan tidak menayangkan hal-hal yang berbau kekerasan.

Terakhir, kembali ke orangtua. Permainan anak memang terkesan sederhana dan tidak diambil serius oleh kebanyakan orangtua. Padahal, beberapa contoh kasus di atas membuktikan bahwa kebanyakan permainan anak yang mengakibatkan cedera atau hilangnya nyawa, disebabkan tidak adanya pengawasan dari orangtua.

Anak-anak adalah masa depan bangsa. Menjaga mereka sama juga dengan menjaga masa depan bangsa ini.

Reuni Yoyok dengan 'Sobat Lama'

Syukri Rahmatullah
Selasa, 1 Maret 2011 - 11:27 wib

Sobat Padi tentu terhenyak mendengar personel band yang digemarinya, Padi, yaitu Yoyok, tertangkap tangan saat tengah mengonsumsi sabu-sabu di Apartemen Sudirman Park lantai 40, kamar 40 BA.

Yoyok pun langsung digelandang polisi dan diancam dengan hukuman penjara karena memiliki 0,5 gram sabu-sabu. Kabar persahabatan Yoyok dengan barang haram narkoba sudah berhembus lama, dia pernah dikabarkan dekat dengan narkoba jenis heroin.

Bahkan kabarnya, karena heroin dan perselingkuhan itulah Rosa menyingkirkan Yoyok dari kehidupannya sebagai suami.

Kasus narkoba dan selebriti bukan pertama kali terjadi, sederet artis ternama juga pernah merasakan jeruji penjara karena masalah narkoba. Dari pelawak, pemain sinetron, hingga musisi.

Dari kalangan musisi selain Yoyok, ada juga Samuel Hendra Simorangkir alias Sammy dan Imam S Arifin. Pemain sinetron dan film ada Roy Marten, Revaldo, Ibra Azhari. Bahkan Roy Marten dan Revaldo sudah dua kali menikmati jeruji penjara karena narkoba.

Sedangkan dari kalangan pelawak, ada nama Polo, Doyok, dan Gogon yang juga menikmati dinginnya ubin penjara.

Persaingan di dunia selebriti yang cukup berat tampaknya cukup mempengaruhi kehidupan seseorang. Dari yang tadinya tenar, banyak job, dan berkantong tebal, menjadi tergusur dengan artis yang baru muncul. Ketika sudah tidak kuat, si artis pun akan lari ke narkoba.

Hal tersebut diakui Sammy, mantan vokalis Keripatih. Dia mengakui bahwa dia mengalami tekanan yang cukup berat di band sehingga melarikan diri ke narkoba. Beberapa selebriti yang terjerat narkoba, kebanyakan sudah jarang muncul di layar kaca lagi.

Sebut saja Roy Marten, Revaldo, Ibra Azhari. Roy Marten merupakan artis pria yang sangat populer di tahun 1980-an. Siapa tak kenal Roy Marten saat itu, pria ganteng yang membintangi Kampus Biru. Kisah percintaan mahasiswa Universitas Gajah Mada yang diperankan Roy Marten.

Revaldo, namanya juga sempat naik saat membintangi sinetron Ada Apa dengan Cinta. Dia berperan sebagai Rangga. Kemudian Ibra Azhari, dia juga cukup populer dalam membintangi film-film panas di tahun 1980-an. Tapi, ketiganya tidak lagi meramaikan layar kaca.

Tampaknya hal ini menjadi pasar yang empuk bagi para pengedar narkoba di Tanah Air. Karena, tak sedikit pengedar narkoba yang mendekati selebriti dan membuat mereka ‘jatuh hati’ dengan narkoba.

Seperti dalam kasus Yoyok dan Imam S Arifin. Polisi sudah menguntit keduanya. Yoyok ditangkap saat menggunakan sabu, sedangkan Imam ditangkap setelah transaksi narkoba. Inilah bukti betapa dekatnya hubungan para artis dengan para pengedar narkoba.

Sebaiknya aparat kepolisian tak hanya selesai dalam menangkap artis yang mengonsumsi narkoba. Akan tetapi juga memutus jaringan pengedar narkoba di kalangan selebriti yang memiliki mata rantai yang cukup kuat.

Selain itu, hal ini juga menjadi peringatan kepada masyarakat yang ingin menjadi selebriti untuk bersiap menghadapi post power syndrome. Karena tak selamanya seseorang berada di puncak ketenaran selamanya, Saat jatuh ya harus siap menghadapinya dan tidak menjadi pengecut dengan melarikan diri kepada narkoba.

"Tak Ada Kawan Sejati"

Syukri Rahmatullah
Jum'at, 25 Februari 2011 - 17:25 wib

SIDANG paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) beberapa waktu lalu, yang memutuskan menolak hak angket Mafia Pajak berlangsung tragis. Karena perbedaan suaranya hanya dua suara saja.

Ada yang unik dalam sidang paripurna ini, karena dua partai yang tergabung dalam sekretariat gabungan koalisi pemerintah, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Golkar tidak sejalan dengan Partai Demokrat.

PKS dan Golkar justru bergabung bersama PDIP untuk mengusulkan agar hak angket digulirkan. Yang lebih unik, Partai Gerindra yang sebelumnya sejalan dengan PDIP, justru mendukung upaya Partai Demokrat untuk menolak hak angket.

Padahal, Ketua Umum Partai Golkar yaitu Aburizal Bakrie dipercaya Presiden SBY untuk menduduki sebagai ketua umum setgab partai koalisi pemerintah. Lalu apa yang terjadi dengan koalisi, sehingga tak seirama lagi.

Tidak seiramanya partai koalisi pemerintah bukan terjadi yang pertama kali. Pada saat bergulirnya hak angket Century, PKS dan Partai Golkar juga ‘membelot’ dari koalisi. Keduanya bersama PDIP, Partai Gerindra, mendukung bergulirnya hak angket Century, sehingga Partai Demokrat kalah dalam voting di sidang paripurna.

Kedua peristiwa ini tampaknya ingin meniru apa yang pernah terjadi di tahun 2001 lalu. Yaitu saat Gus Dur berhasil dijatuhkan pendukungnya sendiri yaitu Poros Tengah melalui Pansus Bullogate.

Berbeda dengan koalisi yang terbangun di Poros Tengah, koalisi yang dibangun KIB Jilid II disebut-sebut sebagai koalisi permanen. Bahkan hingga dibentuk setgab koalisi yang dipimpin Aburizal Bakrie.

Pepatah ‘Tak Ada Kawan Abadi dalam Politik’ tampaknya menjadi nyata. Karena, partai yang sudah mendapat jatah sebagai menteri pun masih bisa berbelok arah, ketika memiliki kepentingan yang berbeda.

Ada banyak orang yang menyebut upaya Presiden SBY membentuk setgab koalisi karena ingin meniru UMNO di Malaysia, yang berhasil menyatukan beberapa partai dalam satu koalisi. Karenanya, UMNO sampai sekarang masih berkuasa di Malaysia.
Walau begitu, meski apa yang dilakukan Partai Golkar dan PKS dianggap negatif Partai Demokrat, karena tidak sejalan lagi dengan pemerintah. Apa yang dilakukan kedua partai ini juga bisa bermakna positif.

Yang pertama, politik Indonesia lebih dinamis, karena sulit ditebak. Bisa dibayangkan, jika kedua partai yang tergabung dalam koalisi hanya mengikuti apa kemauan pemerintah saja. Yang ada, mereka hanya menjadi alat legitimasi belaka.

Kedua, parlemen masih bisa mengkritisi kebijakan pemerintah yang sekiranya tidak berpihak kepada rakyat. Mudah-mudahan kritis yang dibangun di DPR bukan hanya untuk alat menambah jumlah menteri di kabinet. Semoga benar-benar untuk kepentingan rakyat.

Pil Pahit TKI dari Arab Saudi

Syukri Rahmatullah
Rabu, 16 Februari 2011 - 11:36 wib

Nia Kurnia (31), tenaga kerja Indonesia asal Desa Rancamaya, Kabupaten Bandung Barat diperkosa anak majikannya di Arab Saudi pada Mei 2010 lalu. Dua bulan kemudian, dia dipulangkan majikannya ke Indonesia.

Selama bekerja di Riyadh, Nia tidak pernah mendapatkan gaji. Penderitaan Nia tak hanya sampai di situ. Sesampainya di rumah, dia diceraikan suaminya karena diketahui pulang dengan berbadan dua. Nia pun melahirkan anak kembarnya itu tanpa suami.

Kisah pilu di atas hanya salah satu di antara ratusan kisah pilu lain dari jutaan TKI yang mengundi nasib di luar negeri. Tapi, baru-baru ini bukannya perlindungan TKI ditingkatkan, pemerintah Arab Saudi malah menghentikan perekrutan tenaga kerja Indonesia di sana yang kini nyaris mencapai 1 juta orang.

Keputusan ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia memang tidak memiliki bargaining di hadapan pemerintah Arab Saudi. Bukan tidak mungkin, negara lain juga melakukan hal serupa jika pemerintah Indonesia tidak memiliki sikap yang tegas terhadap kebijakan Arab Saudi tersebut.

Harus diakui, jutaan orang tenaga kerja Indonesia di luar negeri telah banyak mengurangi beban pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan di Tanah Air. Mereka malah turut mengisi kantong APBN setiap tahunnya.

Artinya, jika pemerintah Arab Saudi menyetop TKI maka secara tidak langsung pemerintah akan kekurangan pasokan isi kantong APBN dan juga di sisi lain harus menyediakan sekira 1 juta pekerjaan di Tanah Air. Bukan pekerjaan mudah.

Patut diketahui, negara yang menyediakan tenaga kerja sebagai PRT, sopir di luar negeri bukan hanya Indonesia. Tapi, banyak negara berkembang melakukan hal serupa. Contohnya di Arab Saudi, Indonesia harus bersaing dengan tenaga kerja asal Bangladesh, Filipina, India, Pakistan, Ethopia, Somalia, dan Yaman.

Mengikuti hukum permintaan dan penawaran, Arab Saudi telah mendapatkan penawaran yang cukup banyak sehingga permintaan mereka terhadap TKI mulai dibatasi karena banyak hal. Seperti ongkos rekrutmen dan gaji TKI yang belum disepakati antara pemerintah Indonesia dan Arab Saudi, persoalan penganiayaan dan pemerkosaan oleh majikan dan banyak lagi.

Agar masalah ini tak terulang, sebenarnya pemerintah Indonesia hanya memiliki dua pilihan. Pertama menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup. Atau jika memang tidak mampu, maka harus melakukan pendidikan dan pelatihan yang terarah bagi tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Agar dalam berkompetisi dengan negara lain, TKI lebih diunggulkan karena memiliki keahlian yang unik dan tidak dimiliki negara lain.

Dan yang lebih penting dari kedua hal itu, pemerintah Indonesia harus berani melindungi warga negaranya di luar negeri. Ancaman apapun harusnya berani ditepis pemerintah, demi kedaulatan rakyatnya.

Berdampingan di Antara Seribu Perbedaan


Syukri Rahmatullah
Rabu, 9 Februari 2011 - 10:22 wib

INDONESIA adalah negara yang majemuk. Seribu suku dan bahasa ada di negeri kepuluan ini. Bahkan, sebelum datangnya agama-agama mayoritas, seribu agama juga pernah hidup di negeri ini.

Hal itulah yang menginspirasi pendiri bangsa ini, Soekarno. Sehingga dia membuat konsep Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu. Soekarno sadar betul bahwa perbedaan adalah rahmat. Perbedaan bisa menjadi satu kekuatan demi merebut kemerdekakan.

Tapi sayang, tampaknya cita-cita ideal Soekarno itu hanya tinggal mimpi. Karena, ternyata sulit rasanya bangsa ini hidup berdampingan dengan seribu perbedaan. Lihat saja, kasus kekerasan terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten.

Dengan mengatasnamakan agama, sebuah kelompok menyerang penganut Ahmadiyah, sehingga menimbulkan tiga orang meninggal dunia karena luka bacokan dan luka benda tumpul.

Belum usai cerita ini, muncul lagi kekerasan di Temanggung. Sebuah kelompok masyarakat mengamuk di Pengadilam Temanggung. Mereka mengamuk, karena merasa tuntutan JPU terhadap terdakwa penistaan agama Antonius Richmond Bawengan sebanyak lima tahun penjara dinilai terlalu ringan.

Dua cerita di atas hanya sekelumit cerita kecil dari ratusan kekerasan atas nama agama, suku, dan perbedaan lainnya yang terjadi di Tanah Air. Mabes Polri pernah mengungkap sepanjang tahun 2007-2010 terjadi 107 kekerasan. Polisi mengungkap, setidaknya terdapat tiga ormas yang kerap kali terlibat dalam kasus kekerasan tersebut.

Tapi sampai saat ini ketiga ormas yang disebut Kapolri yang saat itu dijabat Jenderal Bambang Hendarso Danuri, masih tetap ada dan terus menjalankan aktivitasnya, melakukan kekerasan!.

Dari sini terlihat bahwa pemerintah melalui aparat penegak hukum tidak bertindak tegas terhadap setiap kekerasan yang terjadi di negara ini. Karena ketidaktegasan aparat penegak hukum itulah, sebagian kecil masyarakat memanfaatkan peluang tersebut dengan terus melakukan kekerasan dalam setiap hal yang mereka yakini. Karena mereka juga punya keyakinan tak ada dihukum!.

Kuncinya adalah penegakan hukum! Jika aparat penegak hukumnya tegas, pasti tak ada lagi tindakan kekerasan yang diorganisir dan dijadikan tren oleh kelompok tertentu.

Di negeri ini terdapat seribu perbedaan. Tak terbayangkan jika seribu perbedaan ini selalu disikapi dengan kekerasan, penyerbuan, membawa golok dan parang. Apa jadinya negeri ini.

Semoga saja, polisi semakin bertindak tegas dalam menyikapi masalah yang sangat serius ini. Setajam apapun perbedaan yang terjadi di masyarakat, polisi seharusnya berada di tengah dan tidak boleh membiarkan terjadinya kekerasan. Apalagi hanya menjadi penonton

Kesalahan Fatal Krisdayanti


Syukri Rahmatullah
Jum'at, 23 Juli 2010 - 17:14 wib

Usai Ariel datanglah Krisdayanti. Mungkin itu tepat untuk menggambarkan pemberitaan media hiburan mengenai selebriti Indonesia. Ariel, Luna, Tari menjadi tersangka, kini muncul Krisdayanti, yang mungkin bisa jadi menyusul menjadi tersangka juga.

Lho, apa pasal?. Hal ini karena aksi ciuman di depan kamera yang dilakukan Yanti dengan kekasih barunya, Raul Lemos. Mungkin sepintas tak ada yang salah dengan ciuman dua insan yang tengah di mabuk asmara itu, wajar-sajar saja.

Tapi, melakukannya di depan televisi yang besar peluangnya ditonton anak-anak adalah peristiwa yang bisa diperkirakan atas nama asusila!. Lihat saja pasal 281 dan pasal 282 mengenai asusila.Bukan main-main, tindakan itu bisa dikenakan hukuman penjara 2 tahun 8 bulan.

Ditambah lagi, meskipun mereka sudah resmi berpacaran, Raul Lemos belum resmi bercerai. Sidang cerai perdana Raul Lemos dengan istrinya, Silvalay Noor Athalia ini baru akan digelar 6 Agustus mendatang.

Karena dua hal di atas itulah, ciuman Krisdayanti dan Raul Lemos masuk dalam kategori kesalahan yang fatal. Jika saja, Raul sudah resmi bercerai. Dua-duanya menyandang status duda dan janda, maka mungkin lain lagi persoalannya.

Tapi tetap saja, dua insan yang belum resmi menikah tidak etis mempertontonkan ciuman di depan publik, apalagi di depan media massa, yang kemudian menyiarkan aksi tersebut.

Sepertinya aksi ciuman ini akan menghantarkan Krisdayanti dan Raul Lemos ke dalam jeruji penjara. Karena, dia selain diancam dengan pasal 281 dan 282 KUHP, dia juga bisa dijerat dengan UU Pornografi. Karena keduanya dengan sengaja mempertontonkan pornografi.

Apakah Krisdayanti akan menyusul Ariel di dalam jeruji penjara, karena aksi ciuman bibirnya itu? Kita lihat saja nanti.

Video 'Ariel', Persaingan Bisnis atau Dendam?



Syukri Rahmatullah
Selasa, 22 Juni 2010 - 16:58 wib

SUDAH tiga pekan pemberitaan mengenai video mirip Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari berada di urutan teratas dari berita yang paling dibaca masyarakat. Ini artinya pembaca sangat ingin tahu mengenai kasus yang melibatkan tiga orang selebriti Tanah Air tersebut.

Di satu sisi, berita skandal mengenai tiga selebriti tersebut mendongkrak jumlah pembaca. Akan tetapi di sisi lain, peristiwa ini membuat miris jiwa kita sebagai orang timur. Apalagi mendengar, video mesum ini mengakibatkan dua bocah SD mencabuli seorang bocah SD lainnya di Jawa Timur.

Dilema! Yak itu lah yang dialami wartawan yang turut meliput pemberitaan mengenai video porno mirip Ariel, Luna Maya dan Cut Tari itu. Akan tetapi, tugas harus tetap dilaksanakan. Mengungkap fakta kepada masyarakat.

Ditambah lagi, ketiga narasumber berita penting tersebut tidak kunjung memberikan pernyataan yang lugas dan tegas mengenai video porno tersebut. Sehingga terkesan, video tersebut benar video mereka, akan tetapi mereka malu mengakuinya.

Akibatnya kejar-kejaran, dorong-dorongan terjadi antar wartawan dan selebriti yang hendak diwawancarai. Sehingga beberapa insiden pun terjadi, seperti perusakan kamera dan terlindasnya wartawati Tabloid Nova. Mungkin hal ini memang tidak disengaja, akan tetapi jika ketiga artis Ibu Kota itu mau berbicara lugas, tapi hal-hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.

Tadi pagi, Selasa 22 Juni Mabes Polri telah menetapkan Ariel sebagai tersangka dalam kasus video porno. Luna Maya dan Cut Tari masih sebagai saksi. Polisi juga belum menetapkan tersangka, yang menyebarkan video tersebut.

Meskipun polisi tidak secara lugas mengatakan bahwa bintang video tersebut adalah Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari, penetapan Ariel sebagai tersangka adalah ‘bahasa lain’ dari kepolisian bahwa memang merekalah bintangnya.

Lalu siapa penyebarnya? Apa motifnya? Misteri ini yang hingga kini belum berhasil diungkap penyidik Mabes Polri. Bisik-bisik sesama wartawan pun menimbulkan gosip baru. Ada yang bilang, bahwa pelakunya adalah pengusaha ternama di Jakarta, yang kesal dan dendam terhadap Ariel, karena istri simpanannya pernah ditiduri Ariel dan direkam dalam salah satu video, yang gosipnya total ada 23 video.

Ada juga bisik-bisik yang lain yang menyebutkan bahwa pelakunya adalah teman dekatnya sendiri. Motifnya juga dendam, tidak ingin band dengan nama baru yang akan didirikan Ariel dan rekan-rekannya itu sukses di pasaran. Penulis ingin menekankan, kedua hal ini adalah gosip, boleh didengar, boleh dibicarakan tapi tidak boleh dipercaya, apalagi diberitakan, sebelum ada fakta yang jelas.

Penulis pun sempat berbincang-bincang dengan sejumlah musisi yang pernah malang melintang di dunia industri musik. Mereka mengakui bahwa memang ada mafia di dalam industri musik. Mafia ini bertugas bagaimana menjegal produk (grup band, penyanyi) kompetitor agar tidak sukses, mafia ini juga bertugas untuk menaikkan popularitas produk mereka sendiri dengan isu atau gosip murahan.

Salah satu musisi tersebut bahkan mengaku pernah ikut dalam salah satu meeting, yang membicarakan rencana kotor untuk menjegal produk lawan. Misalnya, jika kompetitor ingin me-launching sebuah album atau band baru. Maka, dilakukan berbagai macam cara untuk menjegalnya, dengan menghalalkan segala cara.

Dari menghembuskan isu-isu yang tidak benar sampai kepada penjegalan dengan cara membunuh karakter orang yang dituju. Tentunya ini bukanlah cara yang benar dan pantas untuk dilakukan, tapi itu memang nyata.

Semoga saja, kedua hal tadi hanya gosip murahan dan tidak benar adanya. Jika seandainya benar maka sungguh sangat ironis dan tidak dapat dibenarkan secara akal sehat. Seharusnya persaingan di antara sesama industri musik dilakukan dengan menciptakan karya yang lebih baik, bukan malah saling menghancurkan.

*diterbitkan di www.okezone.com