Rabu, 07 Januari 2009

Buruk Rupa, Cermin Dibelah



Rabu, 7 Januari 2009 - 16:26 wib
Syukri Rahmatullah - Okezone

MUNGKIN inilah pepatah yang tepat untuk menggambarkan laporan Kejaksaan Agung terhadap Indonesian Corruption Watch (ICW) ke Mabes Polri, siang hari tadi, dengan alasan pencemaran nama baik.

Bahkan, Mahkamah Agung dalam waktu dekat juga akan melaporkan ICW ke Mabes Polri, mengikuti langkah Kejaksaan Agung.

Laporan pencemaran nama baik oleh Kejaksaan ini dipicu sikap ICW yang mengkritisi Kejaksaan Agung yang mengaku berhasil menyelamatkan uang negara Rp8 triliun dan USD18 juta dalam kurun waktu 2004-2008.

Namun, berdasarkan analisis hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP), dalam kurun waktu 2004-2008 hanya Rp382,67 miliar yang berhasil diselamatkan. Lalu, kemanakan sisanya? Itulah yang dipertanyakan ICW.

Sikap kritis ini kemudian memuncak dalam sebuah pemberitaan di salah satu media massa bertema: "Uang Perkara Korupsi Kok Malah Dikorupsi: Kenapa Duit Rp7 Triliun Belum Masuk Kas Negara?. Berita ini dianggap telah mencemari citra institusi kejaksaan.

Upaya fight agains corruption atau perlawanan melawan korupsi ini bukanlah yang pertama kali. Masih ingat peristiwa laporan Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk Pemilu Bersih dan Berkualitas ke Polda Metro Jaya tahun 11 Agustus 2004 lalu atas dugaan korupsi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum era kepemimpinan Nazarudin Syamsudin.

Menyikapi hal ini, KPU malah melaporkan balik Koalisi LSM tersebut ke Polda Metro Jaya pada 30 Agustus 2004 atas tuduhan pencemaran nama baik. Alhasil, Polda malah melakukan pemanggilan terhadap 2 aktivis Koalisi LSM yaitu Hermawanto dan Arif Nur Alam.

Akhirnya, karena desakan Komisi III DPR polisi mendahulukan laporan dugaan korupsi yang diajukan Koalisi LSM tersebut.

Selain itu, peristiwa yang sama juga terjadi terhadap orangtua siswa SMA 68 dan SD Percontohan IKIP Jakarta yang melaporkan dugaan penyelewengan di dua sekolah tersebut.

Bukannya diapresiasi, para orangtua malah dilaporkan kembali ke polisi karena telah mencemarkan nama baik sekolah.

Laporan Kejaksaan Agung ke Mabes Polri bisa jadi pembelaan terhadap institusinya. Menyelamatkan muka setelah kasus Urip Tri Gunawan. Namun, tindakan fight agains corruption yang dilakukan Kejaksaan bukanlah tindakan yang bijak sebagai lembaga penegak hukum.

Di awal tahun 2009 ini berarti masyarakat telah dipertontonkan tindakan penegak hukum yang kurang bijak. Ya sama seperti kata pepatah di atas, buruk rupa cermin di belah.(uky)

Selasa, 06 Januari 2009

Jadi Pejabat Harus Siap Dilempar Sepatu?


Catatan Redaksi

Rabu, 17 Desember 2008 - 16:05 wib

PELEMPARAN sepatu terhadap Presiden Amerika Serikat George Walker Bush saat jumpa pers dengan Perdana Menteri Irak Nuri Al Maliki beberapa hari lalu menjadi perbincangan hangat baik dari kalangan pejabat, politisi, hingga tukang ojek di warung-warung kopi.

Sebagai sebuah berita, peristiwa ini merupakan berita yang sangat seksi, langka, dan menghebohkan. Bagaimana tidak, seorang presiden dari negara adidaya bisa ditimpuk sepatu begitu saja oleh seorang wartawan lokal. Di manakah CIA, FBI, dan Secret Security Amerika yang selalu didengung-dengungkan paling hebat ketimbang di negara lainnya?

Meski begitu, beruntung Bush memiliki reflek yang cukup bagus. Sehingga sepasang sepatu yang dilempar Muntazer Al Saidi, seorang wartawan Televisi Al Bhagdadia ini tidak berhasil mengenai muka Bush.

Memang, dari peristiwa itu Bush tidak merasakan sakit apapun, karena sepatu milik Muntazer tidak mengenainya. Namun, sorotan televisi yang menangkap peristiwa ini dan menyiarkannya ke seantero dunia, merupakan 'pelemparan sepatu' yang sesungguhnya. Mungkin lain lagi ceritanya, jika peristiwa ini tidak berhasil ditangkap kamera.

Muntazer mungkin hanya mendapatkan ancaman penjara 15 tahun, namun hukuman bagi Bush lebih berat lagi. Pasalnya, dia akan mengakhiri masa jabatannya pada 20 Januari mendatang. Pelemparan sepatu tersebut merupakan hadiah paling buruk dari invasinya ke negara Saddam Husein tersebut.

Di mata Bush dan pendukungnya, Muntazer bisa disebut sebagai seorang penjahat, penghina kepala negara, dan julukan buruk lainnya. Tapi di negara-negara di mana Bush dan Amerika adalah musuhnya, maka Muntazer akan dielu-elukan sebagai pahlawan yang pemberani. Atau bahkan di Irak, popularitas Muntazer bisa saja melebihi Saddam Husein.

Peristiwa ini bisa terjadi di mana saja. Bahkan di Indonesia sekalipun. Bahkan, saking takutnya virus 'sepatu Bush' ini menjalar ke Indonesia, Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan berkelakar meminta agar wartawan mengikat tali sepatunya.

Namun, bukan berarti kejadian hampir mirip tidak pernah terjadi di Indonesia. Masih ingat dengan peristiwa Dirut PLN Eddie Widiono yang dilempar telor busuk oleh mahasiswa.

Mantan Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur juga pernah mengalami hal yang mirip. Mantan Ketua PBNU ini pernah diusir laskar Front Pembela Islam saat mengisi diskusi di Solo. Bahkan, kabarnya Gus Dur pernah ditimpuk dengan aqua karena pernyataannya, namun tidak sampai mengenainya.

Selain itu, almarhum Sukowaluyo, pendiri Partai Demokrasi Pembaruan, juga pernah diludahi pendukung Megawati di daerah, saat sedang mengkampanyekan pembaruan di PDIP, sebelum kongres di Bali.

Peristiwa demi peristiwa ini kemungkinan besar akan terus terjadi. Tidak tertutup kemungkinan di Pemilu 2009 di mana suhu politik memanas, akan ada upaya menjatuhkan citra calon presiden dan calon wakil presiden dengan cara tersebut.

Lalu bagaimanakah cara mengatasinya? Apakah setiap calon pejabat negara harus dilatih agar memiliki reflek yang baik, agar tidak kena timpuk sepatu seperti Bush. Atau pertemuan antara pejabat dengan masyarakat atau wartawan diperketat?.

Namun, menurut penulis peristiwa tersebut tidak akan terulang sepanjang pejabat negara dalam mengeluarkan kebijakannya, berpikir dengan matang dan tidak merugikan rakyat banyak, apalagi rakyat dari negara lain.(uky)

Jumat, 31 Oktober 2008

Belajar Dipimpin dan Memimpin

Di penghujung kelulusanku di Pondok Pesantren Daarul Rahman awal 1998 di bilangan Jakarta Selatan, KH Syukron Makmun, sang murabbi (pengasuh) memberikan khutbatul wada’ atau ceramah terakhir.

Satu pesan beliau yang aku ingat sampai sekarang “Kamu harus siap dipimpin dan siap memimpin”. Kalimat yang terlihat sederhana itu sangat mengiang di telingaku sampai saat ini.

Setelah lulus, aku kuliah di Institut Islam Daarul Rahman (IID) selanjutnya pindah ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) sekarang Universitas Islam Negeri (UIN), selanjutnya aku bekerja sebagai seorang jurnalis.

Sungguh dalam perjalanan hidupku kata-kata tersebut sangat berarti. Seperti saat aku masuk dan aktif di organisasi-organisasi kemahasiswaan. Ternyata aku baru tahu makna sesungguhnya dari “Siap dipimpin dan siap memimpin”.

Dalam setiap perjalanan kita, suatu saat kita pasti berada di bawah pimpinan seseorang. Baik di dunia organisasi, pekerjaan, ataupun rumah tangga. Di sinilah kita diuji, apakah kita siap dipimpin oleh orang lain? Bisa ya dan tidak.

Terkadang ada yang tidak suka dipimpin seseorang karena banyak faktor. Apakah kedekatan, kepribadian, ataupun integritas si pemimpin. Lalu bagaimakah kita bersikap? Apakah kita akan manut dan ikut kepada pemimpin yang memiliki kepribadian yang buruk dan tidak memiliki integritas? Sering kali perasaan “saya lebih baik” dengan tolak ukur subyektif muncul. Tanpa berpikir bahwa mungkin dia tak lebih baik dari yang memimpinnya.

Kemudian, saat kita didaulat atau diminta menjadi pemimpin bagaimanakah kita bersikap. Apakah mundur dan menyerahkan kepada orang lain ataukah kita mengambil tanggung jawab tersebut?

Alhamdulillah, aku pernah mengalami kedua hal tersebut. Aku pernah dipimpin dan pernah juga dipercaya untuk memimpin.

Kesimpulanku, dipimpin dan yang memimpin bagaikan pengendara motor dan yang diboncengnya. Jika yang dibonceng tidak percaya dengan yang mengendara pasti keduanya tak akan sampai kepada tujuan.

Begitu juga dengan si pengendara, jika dia tak memiliki kepercayaan dan tanggung jawab tinggi terhadap keselamatan yang diboncengnya, maka perjalanan mereka juga tidak akan sampai.

Dari kesemuanya, inti dari pesan kyai saya adalah berikan kepercayaan kepada yang memimpin kamu dan bertanggung jawab lah yang tinggi terhadap yang kamu pimpin. Mudah-mudahan niat dan tujuan kita akan tercapai apapun itu!

Minggu, 28 September 2008

Sabtu, 13 September 2008

Redpel: Tempat Ujian Baru.


WAKTU ITU aku tidak bisa tidur selama dua malam. Bagaimana tidak, media okezone yang relatif baru sudah “diguncang” media baru yang diback up modal yang cukup lumayan.

Tak tanggung-tanggung Redpel okezone saat itu hengkang terlebih dahulu dengan kemudian mengajak rekan-rekan lainnya.

Saat itu, di dalam diriku terjadi pergulatan pikiran dan hasrat. Bagaimana tidak, aku juga ikut ditawarkan untuk ikut bergabung di sana dengan tawaran yang cukup menggiurkan.

Ada beberapa teman yang menggambarkan situasi okezone sudah seperti kiamat. Padahal pembaca okezone setiap harinya terus menanjak tinggi. Bahkan sudah mencapai 2 juta perharinya.

Pikiran pun terus menerawang antara hasrat dan pemikiran. Apakah aku pindah atau aku menetap. Aku pun tak lepas konsultasi dengan teman hidupku, istriku dan kedua orangtua. Setelah bicara dan komunikasi akupun memutuskan untuk menetap dan tidak pindah.

Ada beberapa hal yang tidak etis aku ceritakan di sini sehingga aku memutuskan untuk menetap. Padahal jika aku pindah, gajiku sudah terbayang 2 kali lipat yang mungkin belum tentu aku dapatkan di okezone dalam kurun 1 atau 2 tahun ke depan. Tapi pilihanku sudah bulat, aku menetap.

Saat terjadi pembobolan, okezone pun mulai berbenah diri. Terjadi penyempurnaan struktur organisasi. Pemred diganti dan jumlah Redpel ditambah untuk memudahkan pembagian tugas. Namun, hal yang tak kuduga-duga terjadi.

Pemred baru, Mas Budi memanggil beberapa teman yang turut mendirikan okezone ke ruangannya satu persatu. Entah apa yang dibicarakan, hanya Mas Budi dan orang yang diajak bicaralah yang tahu.

Aku pun ikut dipanggil saat itu. Dia meminta aku untuk membantunya. Aku pun langsung menyanggupi, karena aku pun sudah punya keputusan dari awal untuk menetap. Namun yang tidak disangka, aku diminta membantunya sebagai Redaktur Pelaksana. Aku pun langsung menolaknya.

Pasalnya, umurku masih relatif muda 29 tahun. Kebanyakan Redpel di mana-mana pasti sudah berkepala tiga, minimal 35 tahun. “Aku sudah korupsi 6 tahun nih,” batinku. Aku meminta agar Mas Budi saat itu berpikir ulang mengenai penunjukan diriku. Namun, dia kukuh, akhirnya aku pun luluh.

Saat aku mau lulus dari Pondok Pesantren Daarul Rahman tahun 1998 lalu, aku teringat pesan kiai “Kamu harus siap dipimpin dan siap memimpin”. Kalimatnya sederhana namun ketika diselami maknanya sangat dalam. Mungkin ini maksud dari pesan Pak Kiai. Ini adalah salah satu ujianku, yaitu memimpin. Saat ini aku diuji, aku diuji…untuk memimpin.

Seingatku, Allah SWT tak henti-hentinya menguji mahluknya. Akupun belajar memahami makna ujian ini. Semoga aku bisa melalui ujian ini dengan baik, amien.

Jumat, 12 September 2008

"Berita Adalah Candu"

TAK TERASA cukup lama aku tak menyapa blogku sendiri. Padahal biasanya kalau aku sedang tidak sempat menulis untuk blog, aku copy paste tulisanku yang dimuat di catatan redaksi. Entah lah, baru Sabtu 13 September ini aku punya peluang untuk menulis lagi.

Kalau Karl Mark pernah bilang bahwa agama adalah candu, menurutku bagi seorang jurnalis “berita adalah candu”. Bagaimana tidak, setiap hari, jam, bahkan detik sekalipun perhatianku tak pernah lepas dari memantau berita.

Hal ini sangat aku alami setelah aku menjadi salah satu awak di redaksi okezone.com. Tidak seperti di media tempat aku bekerja sebelumnya, Harian Nonstop (rakyat merdeka grup), yang relatif bisa cuek, santai, dan kadang tak peduli dengan situasi, kali ini aku sungguh tidak bisa.

Coba lihat saja rutinitas hidupku: Sebagai seorang ayah beranak satu, tuhan menitipkan “jam weker” kepadaku bernama Ananda Wardah Wahidah (3). Dialah yang selalu membangunkanku di setiap pagi dengan rengekannya. Memaksaku bangun dan meminta bermain dan berkelakar dengannya. Padahal biasanya aku tidur cukup larut.

Setelah bermain, bercanda dengan anakku sekira satu jam, aku bergegas mandi untuk segera ke kantor. Tapi pagi itu, sembari bercanda aku selalu mencari informasi ada apa pagi ini?.

Aku pun mencari melalui televisi, Koran-koran, sehingga “kepalaku sudah terisi” ketika aku masuk kantor. Kegiatanku yang ini sering kali diprotes istriku, Siska Anorita (28). Dia kadang sudah cemberut jika aku sudah membaca, karena baginya ketika suaminya di rumah adalah sudah milik keluarganya bukan milik kantornya. Tapi aku tetap tidak bisa. Beruntung terkadang dia memahamiku.

Setibanya di kantor, seperti biasa, aku selalu memantau media lain. Apa yang menjadi headline koran-koran nasional dan di Jakarta. Terkadang aku suka tersenyum simpul, jika aku melihat ada berita yang kami garap kemarin, tiba-tiba ikut menjadi perhatian media lain pagi ini. Inilah yang namanya kepuasan batin.

Seorang jurnalis tidak punya jam kerja yang tepat, datang pukul 09.00 WIB pulang pukul 17.00 WIB. Menurut saya, kalau mau seperti itu jangan jadi jurnalis! Karena pasti akan mengalami kesulitan.

Makanya, setiap bekerja aku datang sekira pukul 09.00 WIB, namun setiap pulang aku tidak pernah tepat waktu. Secara de jure, seharusnya pukul 20.00 WIB sudah bisa pulang. Namun, faktanya aku pasti sampai rumah paling cepat pukul 22.30 WIB atau hingga pukul 23.50 WIB.

Begitu setiap hari, maka wajar anakku selalu meminta perhatian lebih. Karena pertemuanku dengannya hanya dalam hitungan jam. Beruntung aku punya tips mengenai hal ini, yaitu pertemuan yang berkualitas. Kuusahakan setiap pertemuanku dengannya, selalu sulit dia lupakan. Makanya, aku selalu saja membuatnya tertawa, tersenyum dengen lelucon, cerita yang aku buat-buat.

Dalam sepekan, aku hanya mendapat libur sehari. Namun, waktu itu tidak secara “penuh” aku bisa gunakan untuk keuarga. Seperti aku bilang tadi, “berita adalah candu”, sekalipun libur akupun tetap memperhatikan berita.

Namun, candu menurutku tidak selamanya buruk. Kadang kalau digunakan untuk kebaikan maka hasilnya baik, namun jika berlebihan bisa berakibat tidak baik. Kecanduan seorang jurnalis akan berita juga bukan hal yang buruk, malah positif. Karena dia bisa menjadi jurnalis yang mumpuni dengan penguasaan isu yang cukup memadai.

Rabu, 21 Mei 2008

Merekam Jejak Pelaku Mutilasi

Catatan Redaksi
Jum'at, 16 Mei 2008 - 16:44 wib

Syukri Rahmatullah - Okezone

KASUS mutilasi kembali terjadi, Kamis 15 Mei. Kali ini korban malang yang dimutilasi adalah seorang bocah berusia berumur antara 10-12 tahun. Badannya terpotong empat, namun kepalanya belum ditemukan. Sadis.

Kasus mutilasi ini sudah yang kesekian kalinya. Dari banyaknya kasus mutilasi di Jabotabek, baru dua kasus saja yang terungkap, yaitu kasus mutilasi di Jakarta Utara, Atikah Setyani dengan pelakunya Zaki Afrizal Nurfaizin (25).

Dan kasus mutilasi terhadap waria bernama Ismail di Bogor. pelakunya adalah Rifki Abrar Daulai. Kedua kasus ini memiliki kesamaan modus, yaitu sama-sama kisah asmara yang disembunyikan.

Zaki membunuh, karena Atikah kerap menghina dirinya karena kebohongannya ketahuan, yang awalnya mengaku sebagai mahasiswa Trisakti, padahal hanyalah penjual nasi goreng. Ditambah lagi Atikah sudah berbadan dua. Zaki sendiri memiliki istri dan anak di kampung.

Abrar sendiri, juga mengaku diancam akan dibunuh pacar sesama jenisnya, Ismail. Saat itu, Abrar mengaku akan kembali hidup normal bersama istrinya.

Sementara kasus lainnya, seperti korban mutilasi Eka Putri (21), warga Brebes yang menjadi buruh ditemukan di Jalan Sersan Aswan, Kelurahan Margahayu, Bekasi, 17 April lalu juga belum didapatkan.

Selain itu, sejumlah kasus mutilasi terhadap bocah juga belum ditemukan pelakunya. Seperti bocah yang ditemukan di belakang pasar Klender 9 Juli 2007 lalu, di Kelapa Gading pada Mei 2007 lalu, dan di Bekasi 14 Januari 2008.

Dalam pengamatan okezone, pelaku mutilasi bocah dan pelaku mutilasi Eka Putri memiliki perbedaan. Diduga, pelaku mutilasi Eka memiliki kisah asmara yang disembunyikan, seperti yang terjadi pada Atikah di Jakarta Utara dan Ismail di Bogor.

Sedangkan, pelaku mutilasi bocah merupakan orang yang sama. Pasalnya dalam beberapa kali modusnya memiliki kemiripan. Contohnya, setiap bocah yang dibunuh, pasti sebelumnya disodomi terlebih dahulu. Kemudian, kepalanya di buang terpisah dengan badannya. Dan kardus menjadi tempat untuk menyimpan tubuh korban.

Sementara, tempat pembuangan korban mutilasi selama ini tidak jauh dari Pulogadung sebanyak 2 kali, Klender atau Cakung 1 kali, dan Kelurahan Margahayu sebanyak 3 kali.

Mengenai pelaku, banyak versi yang menduga-duga. Psikolog Sartono menduga, pelaku adalah psikopat dan aksi mutilasi hanyalah ajang dirinya "unjuk gigi:. Alangkah kejamnya, jika kebiasaannya "unjuk gigi" ini dilakukan dengan memutilasi.

Sedangkan Komnas Perlindungan Anak (KPA) menduga, pelaku adalah jaringan penjualan organ tubuh. Pasalnya, terdapat beberapa bagian tubuh yang hilang saat ditemukan, seperti yang ditemukan di Klender.

Namun, dari sekian banyak analisa dan pendapat. Masyarakat hanya membutuhkan ketenangan, keamanan, dan berharap kejahatan sadistis itu tidak terjadi pada anak-anak mereka.

Mudah-mudahan dengan banyaknya analisa yang muncul, membuat pihak kepolisian semakin giat mencari pelakunya, para orangtua tidak lagi khawatir, dan anak-anak kembali aman. (uky)

Sabtu, 02 Februari 2008

Selamat Datang Kembali Orde Baru


Rabu, 30 Januari 2008 - 15:29 wib

Syukri Rahmatullah - Okezone

Putri sulung mantan Presiden Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut mengaku siap kembali menjadi kader Partai Golkar, setelah sekian lama ditinggalkannya dan membentuk Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) bersama R Hartono.

Pernyataan ini secara tidak langsung mendeclaer bahwa kekuatan orde baru sudah kembali lagi, ke sarangnya, yaitu Partai Golkar.

Sebenarnya, penyusunan kekuatan orde baru sudah terlihat sejak lama. Tidak berhasilnya mantan Presiden Soeharto diadili di Departemen Pertanian pada tahun 2000 lalu sebenarnya membuktikan bahwa kekuatan orba masih kuat. Namun pilihannya saat itu bertahan saja dari serangan kalangan reformis.

Setelah tidak berhasil mengadili Soeharto, Tutut mengetes pengaruh ayahnya di kalangan masyarakat dengan membuat Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) pada pemilu 2004. Namun, hasilnya mengecewakan. Electoral Treshold saja gagal diraih.

Puncaknya adalah masuknya Soeharto ke RSPP pada 4 Januari lalu hingga dikabarkan koma. Sejumlah petinggi negara berdatangan silih berganti, mendoakan kesembuhan dan menyalami keluarga. Tercatat Presiden SBY, Wapres Jusuf Kalla, Ketua DPR Agung Laksono, Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita datang.

Begitu juga dengan mantan pejabat seperti mantan Presiden Gus Dur dan Habibie, mantan Wapres Try Sutrisno, mantan PM Malaysia Mahathir, menteri senior Singapura Lee Kwan Yew, yang turut datang.

Kemudian, drama ini berlanjut saat Soeharto meninggal. Upacara kemiliteran dan apresiasi dari pejabat pemerintah dan media televisi terlihat sangat berlebihan dalam pemakaman tersebut.

Bahkan saat prosesi pemakaman, Presiden SBY menjadi inspektur upacara. Empat kepala angkatan seperti Panglima TNI, Kapolri, KSAD, KSAU, dan KSAL memegang pucuk bendera merah putih memayungi jenazah Soeharto.

Fenomena prosesi pemakaman yang megah ini membuktikan bahwa pengaruh Soeharto sangat kuat tertanam di birokrat dan kalangan militer di Indonesia.

Jadi, kemungkinan besar masuknya kembali Tutut ke Partai Golkar akan mengembalikan kekuatan orde baru secara utuh, seperti di masa kejayaannya dahulu. Jika benar, artinya tidak sampai 10 tahun sejak Mei 1998, orde baru sudah kembali bangkit.

Senin, 14 Januari 2008

Drama Tengah Malam di Lantai 5 RSPP

Selasa, 15 Januari 2008 - 13:55 wib
Syukri Rahmatullah - Okezone

Kriiing..kring...kring...

Pukul 23.30 WIB, Sabtu (12/1), handphone Jaksa Agung Hendarman Supandji berdering, orang nomor satu di negeri ini menelepon.

Hendarman diperintahkan untuk melakukan pendekatan kepada keluarga Cendana terkait kasus Yayasan Supersemar yang melibatkan Soeharto.

Sebagai Jaksa karir yang patuh atasan, Hendarman langsung menyiapkan strategi mendekati Cendana sebagaimana diperintahkan atasan yang sedang berada di Malaysia malam itu.

Minggu sekira pukul 02.00 WIB dini hari, Hendarman tiba di RSPP dan langsung ke lantai 5, tempat keluarga Soeharto bertemu. Hendarman datang bukan untuk menjenguk Pak Harto, melainkan menjalankan perintah atasan.

Jaksa bertangan dingin ini pun tanpa segan menawarkan win-win solution dalam kasus Yayasan Supersemar kepada keluarga Cendana. Dalam kasus ini, Presiden SBY adalah pemberi kuasa kepada Jaksa Pengacara Negara untuk menggugat Soeharto dalam kasus penyelewengan Yayasan Supersemar.

Tidak diketahui, siapa dari anak-anak Soeharto yang menerima Hendarman saat itu. Diduga terjadi pembicaraan yang cukup panas antara Hendarman dengan keluarga Cendana. Keluarga Soeharto langsung menolak tawaran Hendarman.

Saat keluar, Hendarman pun langsung diburu wartawan. Dengan polosnya Ia mengakui kedatangannya untuk menawarkan win-win solution dalam kasus Yayasan Supersemar.

?Momentum baik' ini kemudian langsung dijadikan babak selanjutnya dari dramatisasi sakitnya Pak Harto. "Tidak etis, di saat Pak Harto sakit malah membicarakan uang," serang OC Kaligis. "Keluarga Cendana siap berdamai, asalkan tanpa syarat," kata pengacara tersohor ini.

Dengan serangan ini, kontan saja Hendarman langsung terpojok. Kuasa Hukum Soeharto sedang berada di atas angin. Di dalam budaya timur, memang tidak sepantasnya membicarakan harta di tengah kondisi duka. Drama Tengah Malam di RSPP ini pun langsung menjadi sorotan media massa.

Bahkan, Presiden SBY, sepulangnya dari Malaysia, di Cikeas langsung ?ikut' memojokkan anak buahnya sendiri, dengan tidak mengaku memerintahkan Hendarman untuk pergi ke RSPP membicarakan win-win solution. Lengkap sudah, Hendarman semakin tersudut.

Beberapa hari sebelum Drama Tengah Malam di RSPP terjadi. Kuasa Hukum keluarga Soeharto mengaku telah berkirim surat kepada Presiden SBY yang memohon agar ia mencabut surat kuasanya kepada JPN dalam menuntut Soeharto soal penyelewengan Yayasan Supersemar. Selasa (15/1) sidang lanjutan Yayasan Supersemar digelar dengan agenda saksi dari pihak yayasan.

Diduga, perintah Presiden SBY kepada Hendarman berdasarkan ?undangan' dari keluarga Cendana, yaitu surat permohonan dicabutnya gugatan kasus Supersemar. Namun, kuasa hukum Cendana, OCK menolak persepsi tersebut.

Yang pasti, dengan adanya Drama Tengah Malam di lantai 5 RSPP, Presiden SBY sebagai pemberi kuasa kepada JPN dalam kasus Supersemar, ibarat permainan catur, telah kalah selangkah dari Keluarga Cendana. Tidak tertutup kemungkinan gugatan terhadap Yayasan Supersemar bisa dicabut SBY, kita tunggu saja drama di babak selanjutnya.......... (uky)

Kamis, 27 Desember 2007

140 Titik Macet Tutup Akhir Tahun 2007

Kaleidoskop Metropolitan 2007 (1)
140 Titik Macet Tutup Akhir Tahun 2007


Syukri Rahmatullah - Okezone
Tahun 2007 sepertinya menjadi tahun yang penuh peluh keringat dan debu, karena harus berkendara di tengah kemacetan dan asap yang tidak sedap untuk dihirup.

Bayangkan saja, jika setiap hari berangkat kerja harus menghabiskan waktu berjam-jam di dalam mobil, di atas motor, ataupun di atas bus kota bersesakan dengan penumpang lainnya.

Bagaimana tidak macet, dalam catatan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo jumlah kendaraan mobil bertambah 236 buah dan motor bertambah 891 buah, jadi total setiap hari bertambah 1.127 kendaraan di Jakarta.

Masih dalam catatan Bang Foke, kendaraan yang beredar di Jakarta setiap harinya mencapai 5,7 juta unit, terdiri 98,5 persen kendaraan pribadi dan 1,5 persen kendaraan umum. Sementara luas jalan raya hanyalah 6,2 persen dari 650 Kilometer luas Ibu Kota.

Bahkan dengan data-data ini, Sutiyoso saat masih menjadi gubernur meramalkan Jakarta tidak akan bergerak pada tahun 2014.

Dengan data ini, Pemprov DKI Jakarta memang tidak tinggal diam. Sejumlah upaya dilakukan. Seperti pembuatan sejumlah aturan yang mengetatkan para pengguna jalan, seperti yang dilakukan Polda Metro Jaya pada Januari tahun 2007 memberlakukan aturan sepeda motor harus berada di jalur kiri.

Di waktu yang sama, Pemprov DKI juga mengoperasikan sejumlah bus sekolah gratis untuk siswa SMP dan SMU. Pada tahap awal ada 5 trayek bus sekolah yang menghubungkan pemukiman dengan kawasan sekolah. Trayek-trayek itu adalah Sunter-Kemayoran-Tanjung Priok, Ancol-Pademangan-Grogol, Pulogadung-Cakung-Lapangan Banteng, Pramuka-Salemba-CSW Kebayoran, dan Klender-Kampung Melayu.

Kemudian, 1 trayek tambahan, yaitu Yos Sudarso, Gatot Subroto, dan Semanggi, dijadikan sebagai penghubung 5 trayek sebelumnya. Bus sekolah gratis beroperasi pagi pukul 05.00-06.30 WIB, siang pukul 11.00-13.00 WIB, dan sore pukul 16.00-19.00 WIB.

Pada akhirnya, aturan motor harus berada di kiri hilang begitu saja dan bus sekolah gratis tidak terlihat manfaatnya dalam mengatasi kemacetan di Jakarta.

Upaya lainnya juga dilakukan Pemprov DKI Jakarta, seperti pelebaran jalan, underpass dan fly over. Di antaranya Fly Over di kawasan Roxy dan Underpass di Kebayoran Lama, Cempaka Putih, dan di tempat lainnya.

Bahkan, Gubernur DKI Fauzi Bowo di akhir tahun 2007 ini mewacanakan jalan susun yang akan dibangun di Jakarta. Entah kapan akan dibangun, pasalnya sampai saat ini masih dalam kajian.

Selain itu, Pemprov DKI meneruskan rencana pembangunan transportasi massal seperti busway, waterway, monorel, dan subway.

Di awal tahun 2007 ini, setelah sukses meluncurkan busway koridor I-III, 27 Januari, Sutiyoso meresmikan 4 koridor baru di Taman Impian Jaya Ancol. Keempat kodidor busway itu adalah Koridor IV (Pulo Gadung-Dukuh Atas), V (Kampung Melayu Ancol), VI (Ragunan-Kuningan) VII (Kampung Rambutan-Kampung Melayu).

Kemudian, di bulan Agustus 3 koridor mulai dibangun, yaitu koridor VIII (Harmoni-Pondok Indah), IX (Cililitan-Pluit), dan X (Cililitan-Tanjung Priok).

Namun, dengan adanya pembangunan 3 koridor busway ini kemacetan bukannya berkurang, malah semakin bertambah.

Dalam catatan Trafic Managemen Center (TMC), akibat penambahan 4 koridor baru di awal tahun 2007, lokasi kemacetan mencapai 70 titik. Sedangkan pembangunan 3 koridor justru menambah lokasi kemacetan menjadi 140 titik.

Akhir tahun 2007 kemacetan terus terjadi dan belum ada perubahan. Sepertinya tahun 2008 merupakan tahun pengharapan. Harapan semoga kemacetan Jakarta tidak semakin bertambah, tapi semakin berkurang, semoga saja.

(uky)