Kamis, 28 April 2011

Berantas Gerakan Cuci Otak NII KW9

Syukri Rahmatullah
Rabu, 20 April 2011 - 13:55 wib

PENCULIKAN yang marak kembali terjadi di Tanah Air disinyalir dilakukan kelompok Negara Islam Indonesia (NII) KW9.

Setidaknya ada dua peristiwa penculikan yang menunjukkan pola yang sama dan mengarah kepada aktivitas NII KW9. Yaitu penculikan terhadap sembilan orang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan penculikan terhadap pegawai perempuan dari Kementerian Perhubungan bernama Lian Febriarni.

Fenomena penculikan orang untuk dicuci otaknya agar ikut kepada gerakan mereka ini sudah terjadi sejak tahun 1990-an. Akan tetapi, sampai saat ini gerakan cuci otak tersebut masih terjadi.

Gerakan cuci otak yang dilakukan NII KW9 ini memang terbilang unik. Pola hit and run yang mereka lakukan tak hanya menyulitkan orangtua korban dalam proses pencarian anak mereka yang berhasil direkrut aktivis NII KW9.

Dari beberapa mantan korban ‘penculikan’ yang sempat berbincang dengan penulis, ada beberapa kesimpulan mengenai pola yang dilakukan aktivis NII KW9 ini adalah mengincar korbannya. Pertama, yang diincar mereka adalah orang yang dalam usia labil. Makanya yang banyak diculik adalah dari kalangan sekolah menengah atas dan mahasiswa yang masih dalam proses pencarian jati diri.

Kedua, mereka mengincar orang yang tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup. Atau sekalipun pernah mengenyam pendidikan agama, tidak teguh dalam bersikap.

Makanya, dalam proses merekrut korban. Aktivis NII juga melihat terlebih dahulu kapasitas korban dalam pengetahuan agamanya. Jika korban diajak diskusi soal agama dan tidak kritis atau ngeyel, maka ini adalah calon potensial untuk menjadi target mereka.

Di awal pertemuan, biasanya aktivis NII ini tampil dengan penampilan yang perlente, jauh dari kesan agamis yang berjubah dan berjenggot tebal. Akan tetapi, mereka memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengagitasi korbannya dengan sejumlah dalil-dalil alquran untuk membenarkan argument mereka.

Setelah korban masuk dalam kategori potensial, barulah aktivis NII KW9 tersebut membawa mereka ke dalam lingkungan pertama mereka untuk mendapat doktrin lebih lanjut. Salah satu kawan saya mengaku pernah dibawa ke dalam suatu rumah dan di sana dia mendapatkan doktrin setiap saat dan diharuskan membaca buku-buku mereka. Dia tidak diperbolehkan pulang.

Dalam fase ini, ada juga yang berhasil kabur dan mengalami syok. Karena tidak kuat dengan doktrin dan keharusan membaca buku yang membenarkan argumentasi mereka itu.

Biasanya yang berhasil kabur itu, akan terus dikejar dengan dihubungi ataupun didatangi rumah atau tempat tinggalnya. Jika tidak berhasil dibawa kembali, biasanya aktivis NII ini akan berpindah tempat mencari tempat tinggal baru untuk menghilangkan jejak jika si korban membocorkan lokasi tempat mereka.

Menelusuri NII ini tidaklah mudah, karena mereka tergolong ketat dalam menyeleksi kadernya. Ada banyak fase, sehingga korban yang baru saja berhasil masuk ke dalam kelompok mereka tidak mudah dapat bertemu dengan pemimpin NII KW9 regional apalagi di tingkat pusat.

Melihat tipologi di atas sebenarnya yang menjadi pokok utama adalah mengenai penyesatan pembelajaran agama. Karenanya, saat ini sangat penting untuk mengenal latar belakang guru ngaji atau ustaz yang mengajar agama. Di mana dia menimba ilmu agama dan seperti apa tempat dia menimba ilmu.

Kemudian, yang penting juga adalah pendampingan keluarga. Karena, kebanyakan yang terjadi adalah keluarga kurang mendampingi korban dalam proses pembelajaran agama. Sehingga, ketika doktrin agama yang menyesatkan masuk sangat sulit untuk ditanggulangi.

Hal ini sebagaimana terjadi kepada pelaku pengeboman di Cirebon yaitu M Syarif. Orangtuanya, Abdul Ghofur mengaku anaknya berubah setelah mengikuti salah satu pengajian. Dalam sebuah kesempatan, M Syafir mengkafirkan ayahnya dalam berdiskusi soal agama.

Selain dua pencegahan di atas. Yang lebih penting adalah tindakan dari pemerintah melalui aparat keamanan. Aparat keamanan seharusnya lebih sikap dalam menyikapi pergerakan NII KW9 ini. Karena gerakan ini sudah terjadi di Indonesia sejak dua dasawarsa lalu dan korbannya juga cukup banyak.

Sudah sepatutnya NII KW9 ini menjadi target operasi intelijen Tanah Air. Karena kelompok ini dapat mengancam kedaulatan negara. Jangan menunggu penculikan lagi terjadi!

Norman dan Wibawa Kepolisian


Syukri Rahmatullah
Kamis, 7 April 2011 - 12:12 wib

ANGGOTA Brimob Gorontalo, Briptu Norman Kamaru, mendadak terkenal berkat aksinya di Youtube, menyanyi lipsync dan berjoget India saat bertugas. Polemik pun mencuat, apakah yang dilakukan Norman itu dibenarkan atau tidak.

Adalah anggota DPR Komisi III, Ruhut Sitompul, yang menyoal aksi Norman. Dia menyebut aksi Norman tersebut tidak pantas apalagi sedang bertugas. Di samping dia juga, seorang anggota Brimob lainnya sibuk mengetik SMS. Di mata Ruhut, tindakan anggota Brimob Gorontalo ini menyalahi etika dan menjatuhkan wibawa polisi, dia harus mendapat sanksi

Apakah benar aksi Norman tersebut dapat menjatuhkan wibawa kepolisian dan dia patut mendapatkan sanski? Tampaknya hal ini sangatlah berlebihan. Mengingat aksi Norman hanyalah aksi biasa saja, tak bedanya dengan Shinta-Jojo yang menari dengan lagu “Keong Racun” dan Bona yang menyanyikan “Gayus Tambunan”.

Kemungkinan besar, aksi penggemar berat Shah Rukh Khan, karena mengikuti jejak Shinta-Jojo dan Bona. Buktinya, saat dia diberikan sanksi untuk menghibur rekan-rekannya di lapangan dan disorot media, Norman tampak menikmati dan tak ada beban berat sama sekali. Jangan-jangan Norman ingin terkenal melalui Youtube?

Selain itu, Norman juga mengupload video lainnya berjudul Polisi Gorontalo Idol. Bedanya, dia menyanyi berdua temannya dan tidak berseragam polisi. Apakah tindakannya ini sebuah pelanggaran, tampaknya tidak juga. Apa tidak boleh polisi mengekspresikan diri?. Mengenai seragam, beberapa waktu lalu juga pernah ada seorang polisi Ambon mengikuti sebuah acara pencarian bakat di salah satu televisi. Apakah itu sebuah kesalahan?

Tampaknya tidak juga. Justru yang menjatuhkan wibawa polisi adalah anggota polisi yang menggunakan seragamnya melakukan pungli di jalanan kepada para pengendara dengan berbagai alasan. Polisi yang menggunakan seragam dan wewenangnya untuk menakut-nakuti orang dari etnis tertentu ketika terkena kasus.

Justru yang bermasalah adalah polisi yang meskipun tidak berseragam tetapi menjadi beking dari diskotik-diskotik, beking penjual DVD porno di Glodok. Dalam survei yang dilakukan Transparancy Internasional (TI), Polri merupakan salah satu institusi yang masih sarat akan suap. Bahkan peringkatnya sangat tinggi.

Karenanya lebih baik DPR Komisi III, Propam Polri dan lembaga terkait mengurusi polisi-polisi yang menyalahgunakan wewenangnya tersebut. Bukannya malah sibuk mengurusi Norman. Karena, Norman sudah berhasil menyedot perhatian media, tidak usah diurusi lagi.

Tinggal tunggu saja, rekaman album atau single Norman keluar.

Bintang Porno & Kemajuan Film Tanah Air

Syukri Rahmatullah
Kamis, 31 Maret 2011 - 13:03 wib

BEBERAPA waktu lalu Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata merencanakan pengurangan pajak untuk pembuatan film lokal. Hal ini diharapkan mampu mendorong para sineas lokal untuk berkreatif dalam meningkatkan produktivitas dan mutu film Tanah Air.

Tak lama berselang, Maxima Pictures berencana mendatangkan bintang porno asal Jepang untuk yang ketiga kalinya. Setelah Rin Sakuragi dan Miyabi, kini mereka akan mendatangkan bintang porno bernama Sora Aoi.

Memboyong bintang porno luar negeri tak hanya dilakukan Maxima Pictures, K2K Production juga mendatangkan bintang porno. Kali ini berasal dari Negeri Paman Sam, Tera Patrick.

Entah apakah strategi dua rumah produksi tersebut sejalan dengan semangat pemerintah dalam meningkatkan mutu dan produktivitas film Tanah Air? Kalau dari segi produksi, mungkin bisa dibilang ada peningkatan. Bayangkan saja, Maxima yang telah berdiri 2006 lalu telah membuat 20 film, kebanyakan didominasi film horor dan komedi. Di antaranya ada Air Terjun Pengantin, Menculik Miyabi, Hantu Tanah Kusir, dan Suster Keramas.

Produksi film Tanah Air memang beberapa tahun ini meningkat dibandingkan tahun 1992 yang hanya 41 film dalam setahun, 1998 hanya 11 film, bahkan tahun 2001 hanya empat buah film nasional saja.

Tahun 2010 kemarin film nasional sudah mencapai 70 buah film, tahun ini ditargetkan mencapai 100 buah film. Akan tetapi bagaimana dengan mutunya. Di tahun 2010 memang film nasional meningkat

Pertanyaan selanjutnya, apakah hanya jumlah film saja yang kita tingkatkan. Bagaimana kabar dengan mutu film Indonesia. Apakah akan dibiarkan film nasional berbau esek-esek ini terus muncul. Padahal, secara penjualan tak sebagus film nasional lain yang tidak berbau esek-esek.

Contohnya, film yang dibintangi Rin Sakuragi ternyata tak mampu menyaingi film yang Air Terjun Pengantin yang diproduksi PH yang sama. Keduanya, juga belum mampu bersaing dengan pendapatan film Ayat-Ayat Cinta dan juga Laskar Pelangi.

Di samping itu juga masih banyak sineas yang memiliki idealisme dalam membuat film. Sebut saja Mira Lesmana dan Riri Reza yang terus berupaya mengangkat film nasional baik secara kuantitas dan juga kualitasnya. Terbukti dua film terakhir yang mereka sajikan selalu diburu para pecinta film.

Lihat juga Hanung Bramantyo, yang mengangkat produksi film nasional melalui Ayat-Ayat Cinta dan Sang Pencerah. Dan yang tak kalah idealis adalah Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Pasangan selebriti yang pernah menggarap film Senandung di Atas Awan ini sering menggarap film bertema nasionalisme, seperti King dan Tanah Air Beta.

Artinya dari sini terlihat jelas. Bahwa, kuantitas dan kualitas masih tetap perlu berjalan seiring seirama dalam memajukan film Tanah Air. Tinggal bagaimana niat baik pemegang wewenang, dalam hal ini Kemenbudpar, Lembaga Sensor Film, dan juga pelaku, sutradara, aktor, dan aktris.

Bom Buku Ingin 'Dibaca' Siapa?

Syukri Rahmatullah
Jum'at, 18 Maret 2011 - 12:04 wib

Bom Buku memang menarik untuk dibaca. Karena hingga saat ini belum diketahui secara pasti motifnya untuk apa. Sehingga, banyak pihak yang mencoba memelesetkan tujuan si pengirim bom dengan tafsirnya sendiri-sendiri.
Misalnya, saat bom meledak di kawasan kantor lama Ulil Absar Abdalla di Jaringan Islam Liberal dan melukai Kasat Reskrim Jakarta Timur, Kompol Dodi. Kala itu, Ulil langsung menafsirkan bom buku tersebut bertujuan politis karena perannya di Partai Demokrat. Dikaitkan juga dengan permasalahan koalisi yang tengah menghangat.

Tapi ternyata bom buku tidak hanya datang ke eks kantor Ulil, kantor Goris Mere dan rumah Ketua Umum Pemuda Pancasila, Yapto S. Dua hari setelahnya bom juga menyasar ke rumah artis Ahmad Dhani.

Tampaknya Ulil dan rekan-rekannya di Partai Demokrat terlalu cepat menyimpulkan bom buku menyasar partai besutan Presiden SBY tersebut.

Ditambah lagi kesimpulan pengamat politik Bachtiar Effendy dan anggota DPR Effendy Choirie yang menilai bom tidak ditujukan kepada Ulil secara personal. Karena Ulil belum lama baru pulang kuliah dari luar negeri dan belum terlihat perannya di Partai Demokrat. Sehingga belum memiliki ‘ancaman serius’ bagi orang lain.

Ada analisis mengatakan, Ulil hanya dijadikan simbol Jaringan Islam Liberal. Kelompok masyarakat yang dianggap nyeleneh dan membuat penafsiran tersendiri, sehingga mengancam keberadaan Islam.

Hal ini diperkuat dengan ancaman bom kepada Goris Mere yang pernah menjadi pentolan Densus 88, detasemen yang terus memburu dan menghancurkan kelompok teroris. Begitu juga Ahmad Dhani, yang belakangan disebut-sebut kelompok Islam kanan sebagai agen Yahudi.

Terlepas dari berbagai analisis di atas. Saat ini masyarakat dalam kondisi resah dan ketakutan. Sehingga tidak berani membuka paket berisi buku yang datang ke rumah mereka. Misalnya Indra, warga di Pondok Indah yang memanggil Gegana karena mendapat kiriman buku dari orang yang tidak dikenalnya.

Dalam hal ini intelijen bisa saja disebut kecolongan. Karena tidak dapat mengantisipasi gerakan teroris yang kini hidup kembali dan membuat situasi mencekam kembali. Mengutip mantan kepala BIN Hendropriyono, seharusnya intelijen tidak melepaskan pengawasannya dari kelompok teroris seperti ini.

Intelijen harus tetap menaruh orang di kelompok ini dan terus mengawasi pergerakan mereka agar tidak ada lagi ancaman-ancaman bom yang berpotensi mengancam keselamatan masyarakat.

Imbauan Presiden SBY belakangan diharap bisa menjadi pendorong bagi kalangan intelijen di kepolisian, TNI, dan juga BIN agar bergerak lebih cepat lagi dalam menyingkap siapa sebenarnya pelaku pengirim bom tersebut. Agar tidak terjadi saling tuding mengenai pengirim bom.

Dan yang pasti agar masyarakat merasa terlindungi dan tidak lagi dalam kondisi terancam.

Mainanku Mautku

Syukri Rahmatullah
Jum'at, 11 Maret 2011 - 12:02 wib
Syukri Rahmatullah.

BERMAIN seharusnya menjadi hal yang menyenangkan bagi anak-anak. Tapi, apa jadinya jika permainan justru berujung maut.

Tewasnya seorang bocah kelas 1 SD di Depok, Rivaldi, di tangan kawannya sendiri, Rsk (11) harus menjadi perhatian serius. Apalagi, dia tewas karena tertusuk besi di bagian kepala yang mereka jadikan alat permainan mereka.

Permainan yang dilakukan Rivaldi dan Rsk tergolong sadis. Mereka bermain perang-perangan dengan teman-temannya dengan menggunakan peralatan yang tidak semestinya.

Di Amerika Serikat sebanyak 235.000 anak sepanjang tahun 2008 masuk unit gawat darurat karena mengalami luka akibat mainan mereka.

Pada tahun yang sama, 19 orang meninggal karena mengalami kecelakaan mainan mereka. Kebanyakan anak mengalami tersedak karena menelan mainan kecil.

Di Indonesia, akhir tahun 2010 sebanyak 20 anak masuk unit gawat darurat dan 8 di antaranya terancam buta permanen. Mereka masuk UGD, setelah bermain perang-perangan dengan pistol mainan yang pelurunya mengenai mata mereka.

Dari fenomena ini, mainan bisa menyenangkan dan juga berbahaya. Karenanya, perhatian serius terhadap mainan dan permainan anak haruslah ditingkatkan.

Setidaknya terdapat tiga hal yang harus diperhatikan dari fenomena ini. Dari segi regulasi, pemerintah seharusnya menjaga ketat mainan yang masuk ke Indonesia. Mainan yang bisa membuat cedera bahkan mencabut nyawa, sebaiknya sudah disetop dan dilarang peredarannya.

Kedua, anak-anak adalah peniru yang ulung. Karenanya, sebaiknya mereka tidak melihat kekerasan baik secara verbal ataupun melalui media. Karenanya, media seperti televisi berperan penting untuk mencegah kekerasan di kalangan anak-anak dengan tidak menayangkan hal-hal yang berbau kekerasan.

Terakhir, kembali ke orangtua. Permainan anak memang terkesan sederhana dan tidak diambil serius oleh kebanyakan orangtua. Padahal, beberapa contoh kasus di atas membuktikan bahwa kebanyakan permainan anak yang mengakibatkan cedera atau hilangnya nyawa, disebabkan tidak adanya pengawasan dari orangtua.

Anak-anak adalah masa depan bangsa. Menjaga mereka sama juga dengan menjaga masa depan bangsa ini.

Reuni Yoyok dengan 'Sobat Lama'

Syukri Rahmatullah
Selasa, 1 Maret 2011 - 11:27 wib

Sobat Padi tentu terhenyak mendengar personel band yang digemarinya, Padi, yaitu Yoyok, tertangkap tangan saat tengah mengonsumsi sabu-sabu di Apartemen Sudirman Park lantai 40, kamar 40 BA.

Yoyok pun langsung digelandang polisi dan diancam dengan hukuman penjara karena memiliki 0,5 gram sabu-sabu. Kabar persahabatan Yoyok dengan barang haram narkoba sudah berhembus lama, dia pernah dikabarkan dekat dengan narkoba jenis heroin.

Bahkan kabarnya, karena heroin dan perselingkuhan itulah Rosa menyingkirkan Yoyok dari kehidupannya sebagai suami.

Kasus narkoba dan selebriti bukan pertama kali terjadi, sederet artis ternama juga pernah merasakan jeruji penjara karena masalah narkoba. Dari pelawak, pemain sinetron, hingga musisi.

Dari kalangan musisi selain Yoyok, ada juga Samuel Hendra Simorangkir alias Sammy dan Imam S Arifin. Pemain sinetron dan film ada Roy Marten, Revaldo, Ibra Azhari. Bahkan Roy Marten dan Revaldo sudah dua kali menikmati jeruji penjara karena narkoba.

Sedangkan dari kalangan pelawak, ada nama Polo, Doyok, dan Gogon yang juga menikmati dinginnya ubin penjara.

Persaingan di dunia selebriti yang cukup berat tampaknya cukup mempengaruhi kehidupan seseorang. Dari yang tadinya tenar, banyak job, dan berkantong tebal, menjadi tergusur dengan artis yang baru muncul. Ketika sudah tidak kuat, si artis pun akan lari ke narkoba.

Hal tersebut diakui Sammy, mantan vokalis Keripatih. Dia mengakui bahwa dia mengalami tekanan yang cukup berat di band sehingga melarikan diri ke narkoba. Beberapa selebriti yang terjerat narkoba, kebanyakan sudah jarang muncul di layar kaca lagi.

Sebut saja Roy Marten, Revaldo, Ibra Azhari. Roy Marten merupakan artis pria yang sangat populer di tahun 1980-an. Siapa tak kenal Roy Marten saat itu, pria ganteng yang membintangi Kampus Biru. Kisah percintaan mahasiswa Universitas Gajah Mada yang diperankan Roy Marten.

Revaldo, namanya juga sempat naik saat membintangi sinetron Ada Apa dengan Cinta. Dia berperan sebagai Rangga. Kemudian Ibra Azhari, dia juga cukup populer dalam membintangi film-film panas di tahun 1980-an. Tapi, ketiganya tidak lagi meramaikan layar kaca.

Tampaknya hal ini menjadi pasar yang empuk bagi para pengedar narkoba di Tanah Air. Karena, tak sedikit pengedar narkoba yang mendekati selebriti dan membuat mereka ‘jatuh hati’ dengan narkoba.

Seperti dalam kasus Yoyok dan Imam S Arifin. Polisi sudah menguntit keduanya. Yoyok ditangkap saat menggunakan sabu, sedangkan Imam ditangkap setelah transaksi narkoba. Inilah bukti betapa dekatnya hubungan para artis dengan para pengedar narkoba.

Sebaiknya aparat kepolisian tak hanya selesai dalam menangkap artis yang mengonsumsi narkoba. Akan tetapi juga memutus jaringan pengedar narkoba di kalangan selebriti yang memiliki mata rantai yang cukup kuat.

Selain itu, hal ini juga menjadi peringatan kepada masyarakat yang ingin menjadi selebriti untuk bersiap menghadapi post power syndrome. Karena tak selamanya seseorang berada di puncak ketenaran selamanya, Saat jatuh ya harus siap menghadapinya dan tidak menjadi pengecut dengan melarikan diri kepada narkoba.

"Tak Ada Kawan Sejati"

Syukri Rahmatullah
Jum'at, 25 Februari 2011 - 17:25 wib

SIDANG paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) beberapa waktu lalu, yang memutuskan menolak hak angket Mafia Pajak berlangsung tragis. Karena perbedaan suaranya hanya dua suara saja.

Ada yang unik dalam sidang paripurna ini, karena dua partai yang tergabung dalam sekretariat gabungan koalisi pemerintah, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Golkar tidak sejalan dengan Partai Demokrat.

PKS dan Golkar justru bergabung bersama PDIP untuk mengusulkan agar hak angket digulirkan. Yang lebih unik, Partai Gerindra yang sebelumnya sejalan dengan PDIP, justru mendukung upaya Partai Demokrat untuk menolak hak angket.

Padahal, Ketua Umum Partai Golkar yaitu Aburizal Bakrie dipercaya Presiden SBY untuk menduduki sebagai ketua umum setgab partai koalisi pemerintah. Lalu apa yang terjadi dengan koalisi, sehingga tak seirama lagi.

Tidak seiramanya partai koalisi pemerintah bukan terjadi yang pertama kali. Pada saat bergulirnya hak angket Century, PKS dan Partai Golkar juga ‘membelot’ dari koalisi. Keduanya bersama PDIP, Partai Gerindra, mendukung bergulirnya hak angket Century, sehingga Partai Demokrat kalah dalam voting di sidang paripurna.

Kedua peristiwa ini tampaknya ingin meniru apa yang pernah terjadi di tahun 2001 lalu. Yaitu saat Gus Dur berhasil dijatuhkan pendukungnya sendiri yaitu Poros Tengah melalui Pansus Bullogate.

Berbeda dengan koalisi yang terbangun di Poros Tengah, koalisi yang dibangun KIB Jilid II disebut-sebut sebagai koalisi permanen. Bahkan hingga dibentuk setgab koalisi yang dipimpin Aburizal Bakrie.

Pepatah ‘Tak Ada Kawan Abadi dalam Politik’ tampaknya menjadi nyata. Karena, partai yang sudah mendapat jatah sebagai menteri pun masih bisa berbelok arah, ketika memiliki kepentingan yang berbeda.

Ada banyak orang yang menyebut upaya Presiden SBY membentuk setgab koalisi karena ingin meniru UMNO di Malaysia, yang berhasil menyatukan beberapa partai dalam satu koalisi. Karenanya, UMNO sampai sekarang masih berkuasa di Malaysia.
Walau begitu, meski apa yang dilakukan Partai Golkar dan PKS dianggap negatif Partai Demokrat, karena tidak sejalan lagi dengan pemerintah. Apa yang dilakukan kedua partai ini juga bisa bermakna positif.

Yang pertama, politik Indonesia lebih dinamis, karena sulit ditebak. Bisa dibayangkan, jika kedua partai yang tergabung dalam koalisi hanya mengikuti apa kemauan pemerintah saja. Yang ada, mereka hanya menjadi alat legitimasi belaka.

Kedua, parlemen masih bisa mengkritisi kebijakan pemerintah yang sekiranya tidak berpihak kepada rakyat. Mudah-mudahan kritis yang dibangun di DPR bukan hanya untuk alat menambah jumlah menteri di kabinet. Semoga benar-benar untuk kepentingan rakyat.

Pil Pahit TKI dari Arab Saudi

Syukri Rahmatullah
Rabu, 16 Februari 2011 - 11:36 wib

Nia Kurnia (31), tenaga kerja Indonesia asal Desa Rancamaya, Kabupaten Bandung Barat diperkosa anak majikannya di Arab Saudi pada Mei 2010 lalu. Dua bulan kemudian, dia dipulangkan majikannya ke Indonesia.

Selama bekerja di Riyadh, Nia tidak pernah mendapatkan gaji. Penderitaan Nia tak hanya sampai di situ. Sesampainya di rumah, dia diceraikan suaminya karena diketahui pulang dengan berbadan dua. Nia pun melahirkan anak kembarnya itu tanpa suami.

Kisah pilu di atas hanya salah satu di antara ratusan kisah pilu lain dari jutaan TKI yang mengundi nasib di luar negeri. Tapi, baru-baru ini bukannya perlindungan TKI ditingkatkan, pemerintah Arab Saudi malah menghentikan perekrutan tenaga kerja Indonesia di sana yang kini nyaris mencapai 1 juta orang.

Keputusan ini menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia memang tidak memiliki bargaining di hadapan pemerintah Arab Saudi. Bukan tidak mungkin, negara lain juga melakukan hal serupa jika pemerintah Indonesia tidak memiliki sikap yang tegas terhadap kebijakan Arab Saudi tersebut.

Harus diakui, jutaan orang tenaga kerja Indonesia di luar negeri telah banyak mengurangi beban pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan di Tanah Air. Mereka malah turut mengisi kantong APBN setiap tahunnya.

Artinya, jika pemerintah Arab Saudi menyetop TKI maka secara tidak langsung pemerintah akan kekurangan pasokan isi kantong APBN dan juga di sisi lain harus menyediakan sekira 1 juta pekerjaan di Tanah Air. Bukan pekerjaan mudah.

Patut diketahui, negara yang menyediakan tenaga kerja sebagai PRT, sopir di luar negeri bukan hanya Indonesia. Tapi, banyak negara berkembang melakukan hal serupa. Contohnya di Arab Saudi, Indonesia harus bersaing dengan tenaga kerja asal Bangladesh, Filipina, India, Pakistan, Ethopia, Somalia, dan Yaman.

Mengikuti hukum permintaan dan penawaran, Arab Saudi telah mendapatkan penawaran yang cukup banyak sehingga permintaan mereka terhadap TKI mulai dibatasi karena banyak hal. Seperti ongkos rekrutmen dan gaji TKI yang belum disepakati antara pemerintah Indonesia dan Arab Saudi, persoalan penganiayaan dan pemerkosaan oleh majikan dan banyak lagi.

Agar masalah ini tak terulang, sebenarnya pemerintah Indonesia hanya memiliki dua pilihan. Pertama menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup. Atau jika memang tidak mampu, maka harus melakukan pendidikan dan pelatihan yang terarah bagi tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Agar dalam berkompetisi dengan negara lain, TKI lebih diunggulkan karena memiliki keahlian yang unik dan tidak dimiliki negara lain.

Dan yang lebih penting dari kedua hal itu, pemerintah Indonesia harus berani melindungi warga negaranya di luar negeri. Ancaman apapun harusnya berani ditepis pemerintah, demi kedaulatan rakyatnya.

Berdampingan di Antara Seribu Perbedaan


Syukri Rahmatullah
Rabu, 9 Februari 2011 - 10:22 wib

INDONESIA adalah negara yang majemuk. Seribu suku dan bahasa ada di negeri kepuluan ini. Bahkan, sebelum datangnya agama-agama mayoritas, seribu agama juga pernah hidup di negeri ini.

Hal itulah yang menginspirasi pendiri bangsa ini, Soekarno. Sehingga dia membuat konsep Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu. Soekarno sadar betul bahwa perbedaan adalah rahmat. Perbedaan bisa menjadi satu kekuatan demi merebut kemerdekakan.

Tapi sayang, tampaknya cita-cita ideal Soekarno itu hanya tinggal mimpi. Karena, ternyata sulit rasanya bangsa ini hidup berdampingan dengan seribu perbedaan. Lihat saja, kasus kekerasan terhadap warga Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten.

Dengan mengatasnamakan agama, sebuah kelompok menyerang penganut Ahmadiyah, sehingga menimbulkan tiga orang meninggal dunia karena luka bacokan dan luka benda tumpul.

Belum usai cerita ini, muncul lagi kekerasan di Temanggung. Sebuah kelompok masyarakat mengamuk di Pengadilam Temanggung. Mereka mengamuk, karena merasa tuntutan JPU terhadap terdakwa penistaan agama Antonius Richmond Bawengan sebanyak lima tahun penjara dinilai terlalu ringan.

Dua cerita di atas hanya sekelumit cerita kecil dari ratusan kekerasan atas nama agama, suku, dan perbedaan lainnya yang terjadi di Tanah Air. Mabes Polri pernah mengungkap sepanjang tahun 2007-2010 terjadi 107 kekerasan. Polisi mengungkap, setidaknya terdapat tiga ormas yang kerap kali terlibat dalam kasus kekerasan tersebut.

Tapi sampai saat ini ketiga ormas yang disebut Kapolri yang saat itu dijabat Jenderal Bambang Hendarso Danuri, masih tetap ada dan terus menjalankan aktivitasnya, melakukan kekerasan!.

Dari sini terlihat bahwa pemerintah melalui aparat penegak hukum tidak bertindak tegas terhadap setiap kekerasan yang terjadi di negara ini. Karena ketidaktegasan aparat penegak hukum itulah, sebagian kecil masyarakat memanfaatkan peluang tersebut dengan terus melakukan kekerasan dalam setiap hal yang mereka yakini. Karena mereka juga punya keyakinan tak ada dihukum!.

Kuncinya adalah penegakan hukum! Jika aparat penegak hukumnya tegas, pasti tak ada lagi tindakan kekerasan yang diorganisir dan dijadikan tren oleh kelompok tertentu.

Di negeri ini terdapat seribu perbedaan. Tak terbayangkan jika seribu perbedaan ini selalu disikapi dengan kekerasan, penyerbuan, membawa golok dan parang. Apa jadinya negeri ini.

Semoga saja, polisi semakin bertindak tegas dalam menyikapi masalah yang sangat serius ini. Setajam apapun perbedaan yang terjadi di masyarakat, polisi seharusnya berada di tengah dan tidak boleh membiarkan terjadinya kekerasan. Apalagi hanya menjadi penonton

Kesalahan Fatal Krisdayanti


Syukri Rahmatullah
Jum'at, 23 Juli 2010 - 17:14 wib

Usai Ariel datanglah Krisdayanti. Mungkin itu tepat untuk menggambarkan pemberitaan media hiburan mengenai selebriti Indonesia. Ariel, Luna, Tari menjadi tersangka, kini muncul Krisdayanti, yang mungkin bisa jadi menyusul menjadi tersangka juga.

Lho, apa pasal?. Hal ini karena aksi ciuman di depan kamera yang dilakukan Yanti dengan kekasih barunya, Raul Lemos. Mungkin sepintas tak ada yang salah dengan ciuman dua insan yang tengah di mabuk asmara itu, wajar-sajar saja.

Tapi, melakukannya di depan televisi yang besar peluangnya ditonton anak-anak adalah peristiwa yang bisa diperkirakan atas nama asusila!. Lihat saja pasal 281 dan pasal 282 mengenai asusila.Bukan main-main, tindakan itu bisa dikenakan hukuman penjara 2 tahun 8 bulan.

Ditambah lagi, meskipun mereka sudah resmi berpacaran, Raul Lemos belum resmi bercerai. Sidang cerai perdana Raul Lemos dengan istrinya, Silvalay Noor Athalia ini baru akan digelar 6 Agustus mendatang.

Karena dua hal di atas itulah, ciuman Krisdayanti dan Raul Lemos masuk dalam kategori kesalahan yang fatal. Jika saja, Raul sudah resmi bercerai. Dua-duanya menyandang status duda dan janda, maka mungkin lain lagi persoalannya.

Tapi tetap saja, dua insan yang belum resmi menikah tidak etis mempertontonkan ciuman di depan publik, apalagi di depan media massa, yang kemudian menyiarkan aksi tersebut.

Sepertinya aksi ciuman ini akan menghantarkan Krisdayanti dan Raul Lemos ke dalam jeruji penjara. Karena, dia selain diancam dengan pasal 281 dan 282 KUHP, dia juga bisa dijerat dengan UU Pornografi. Karena keduanya dengan sengaja mempertontonkan pornografi.

Apakah Krisdayanti akan menyusul Ariel di dalam jeruji penjara, karena aksi ciuman bibirnya itu? Kita lihat saja nanti.